RUTENG, BERITA FLORES – Sebagian besar petani padi di wilayah Lingko Lanar, kecamatan Ruteng, kabupaten Manggarai, NTT, mulai merasakan kemudahan dalam proses panen berkat kehadiran alat mesin pertanian (alsintan) jenis Combine Harvester.
Kehadiran alat ini membawa perubahan besar dalam praktik pertanian lokal. Proses panen yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga besar kini menjadi lebih cepat, efisien, dan menghasilkan kualitas padi yang lebih baik.
Mesin combine harvester juga mengurangi potensi kehilangan hasil panen yang umum terjadi pada panen manual. Apalagi, di era modern saat ini combine harvester merupakan teknologi yang harus digunakan untuk menjawab kendala yang dihadapi, misalnya semakin turunnya tenaga kerja, tingginya upah panen.
Artinya, kehadiran alsintan ini para petani sudah sangat terbantu untuk mengerjakan lahan masing-masing hingga panen.
Seperti di saksikan Beritaflores di lapangan pada Senin (25/05/2026), tampak dua unit mesin itu tengah beroperasi di sekitar hamparan persawahan Lingko Lanar membantu petani memanen padi.
Kehadiran alat panen modern tersebut menarik perhatian para petani yang antusias menyaksikan proses panen berlangsung lebih cepat dan efisien, hemat biaya, hasil kerja juga lebih cepat dan optimal.
Gebrakan yang dilakukan oleh Pemkab Manggarai ini dilakukan untuk membantu petani mempercepat proses panen padi sekaligus menekan biaya produksi pertanian yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai, Ferdinandus Ampur, mengatakan penggunaan alsintan mulai memberikan dampak positif bagi petani, baik dari sisi efisiensi biaya maupun peningkatan hasil panen.
Menurutnya, berdasarkan hasil monitoring dan testimoni petani di lapangan, penggunaan alat panen modern mampu menghemat biaya panen hingga sekitar 60 persen dibandingkan metode manual.
Selain itu, penggunaan Combine Harvester juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian hingga 10 sampai 15 persen.
“Kita melihat hasil panen meningkat dan biaya panen jauh lebih hemat. Ini menjadi langkah penting dalam modernisasi pertanian di Kabupaten Manggarai,” ujarnya saat memantau langsung proses panen di Lingko Lanar.
Walau demikian, Ferdy mengakui bahwa terdapat sejumlah kendala dalam penerapan alsintan di lapangan, terutama terkait ukuran lahan pertanian masyarakat yang relatif sempit sehingga memengaruhi efektivitas kerja alat.
Namun demikian, antusiasme petani terhadap penggunaan alsintan dinilai sangat tinggi. Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan berkomitmen terus mendorong pemanfaatan alat dan mesin pertanian di wilayah sentra produksi padi.
Ke depan lanjut Kadis Ferdy, pihaknya juga berencana mengoptimalkan pemanfaatan alsintan mulai dari tahap pengolahan lahan, penanaman, perawatan hingga proses panen. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung modernisasi pertanian yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Modernisasi pertanian itu diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk kembali terjun ke sektor pertanian melalui program petani milenial yang tengah dikembangkan pemerintah daerah.
Terpisah, Benediktus Bagul, salah seorang petani milenial di Lingko Lanar,mengaku sangat terbantu dengan kehadiran alat panen modern tersebut.
Menurutnya, proses panen menjadi lebih cepat dan tenaga kerja yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dibandingkan panen manual.
“Kalau panen manual biasanya membutuhkan waktu beberapa hari, sekarang dengan alat ini pekerjaan jauh lebih cepat selesai,” katanya kepada Beritaflores.com.
Hal serupa juga disampaikan oleh Leonardus Damar, mengatakan kehadiran alat tersebut sangat terbantu bagi petani. Hal tersebut kata dia, akan lebih praktis, hemat waktu dan hemat biaya.
“Ketika saya bandingkan untuk saya punya pak, sebelumnya saya mengeluarkan biaya tenaga kerja mencapai 1- 2 juta untuk kerja manual. Namun ketika menggunakan alat ini hanya mengeluarkan 800 ribu saja dan waktunya tidak sampai 30 menit,” jelasnya.
Selain itu Leonardus juga mengakui, jika hasil produksi lahan yang ukurannya mencapai 1 hektar miliknya itu mengalami peningkatan.
Artinya , pada tahun sebelumnya ia menghasilkan produksi sebanyak 14 karung. Namun saat ini usai panen menggunakan mesen combine harvaster itu telah menghasilkan produksi sebanyak 16 karung.
“Ada peningkatan hasil dari tahun sebelumnya, hasil ini mungkin dari pemupukan dan jenis bibit, selain itu dari penggunaan mesin ini karena dengan alat ini benih-benih padi tidak tercecer juga jauh lebih bersih,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Campe Cama Wihelmus, berharap penggunaan alsintan terus diperluas di wilayah pertanian Kabupaten Manggarai agar generasi muda semakin tertarik terjun ke sektor pertanian modern.
“Kalau pertanian sudah menggunakan teknologi seperti ini, anak muda tentu lebih tertarik kembali bekerja di sektor pertanian,” pungkasnya.**
Laporan Yhono Hande






