• Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Saturday, November 7, 2026
NEWSLETTER
Berita Flores
No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
No Result
View All Result
Berita Flores
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Natal yang Hening

by Redaksi Berita Flores
25 December 2017
in HEADLINE, OPINI
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Frans Anggal

Paus Fransiskus punya permenungan indah tentang Natal. Butir demi butir pesan ia sampaikan melalui kalimat indikatif, diikuti kalimat kondisional. A adalah B ketika B melakukan C. Begitu rumusannya. Salah satunya ini, butir pertama pesan: “Christmas is you, when you decide to be born again each day and let God into your soul.” Natal adalah engkau, ketika engkau memutuskan untuk dilahirkan kembali setiap hari dan membiarkan Tuhan masuk ke dalam jiwamu.

Selanjutnya, dengan rumusan yang sama, pesan-pesannya menetes sebutir demi sebutir. Pohon Natal adalah engkau, ketika engkau bertahan terhadap terpaan badai dan kesulitan hidup. Hiasan Natal adalah engkau, ketika kebajikanmu menjadi warna-warni yang menghiasi hidupmu. Lonceng Natal adalah engkau …. Lampu Natal adalah engkau …. Dan seterusnya dan seterusnya. Semuanya adalah engkau.

Ada yang menarik dari permenungan singkat paus ini. Tidak satu kata pun ia menyebut Yesus si bayi Natal. Padahal Yesus itu tokoh utamanya kisah Natal. Tanpa Yesus, Natal tidak ada.

Yang disebut paus koq hal-hal tetek bengek, tidak penting, yang tanpa semua itu pun Natal tetap bermakna asalkan Yesusnya tetap ada. Ini tidak. Yesus “dilupakan”. Yang “diingat” malah pohon Natal, hiasan Natal, lonceng Natal, lampu Natal, lagu Natal, kartu Natal, kado Natal, kue Natal, dan seterusnya dan sebagainya.

Apakah paus sedang tidak keliru? Tega-teganya Yesus tidak ia singgung sama sekali. Kalau Yesus sampai tersinggung bagaimana? Kalau Bunda Maria dan Santo Yosef kecewa berat, siapa bertanggung jawab? Mereka dua sudah setengah mati pertaruhkan hidup demi bayi yang dinanti-nantikan, eh, pada ulang tahun ke-2017 kelahiran, Yesusnya tidak disebutkan. Yang disentil malah pohon, hiasan, lonceng, lampu, lagu, kartu, kado, kue. Apakah kue yang menyelamatkan manusia? Sejak kapan kue memanggul salib ke Golgotha?

Untuk paus keliru dalam urusan seperti ini pasti tidaklah. Itu pasti. Katolik punya dogma infalibilitas kepausan. Intinya, di bawah bimbingan Roh Kudus paus tidak mungkin salah atau keliru dalam pengajaran iman dan moral.

Kalau begitu? Yang banyak keliru justru umat yang digembalakannya. Apa kekeliruan mereka? Mereka merayakan Natal tidak dengan fokus pada bernasnya Natal, tapi justru pada ampasnya. Pohon, hiasan, lonceng, lampu, lagu, kartu, kado, kue, yang semunya beratribut Natal itu adalah ampas tahu Natal. Laku Natal masa kini justru fokus ke ampas ini seraya lupa akan sari tahunya: Yesus.

Paus berangkat dari laku keliru itu. Ia start dari yang ampas menuju yang bernas. Ia menyebut pohon, hiasan, lonceng, lampu, lagu, kartu, kado, kue, yang selama ini sudah sangat diakrabi umat kristiani dalam ber-Natal, dengan tujuan menyadarkan mereka untuk apa sebenarnya semua barang tetek bengek itu diadakan kalau bukan untuk membawa mereka semakin dekat dengan Yesus si bayi Natal.

Pohon, hiasan, lonceng, lampu, lagu, kartu, kado, kue, musik Natal dan lain-lain sudah lazim menjadi sarana perayaanan Natal. Semua itu bikin Natal jadi raya, besar, akbar, meriah, gegap gempita, dan bila ditingkahi bunyi petasan serta letap-letup kembang api—di Flores ditambah lagi dengan dentuman meriam bambu—maka perayaan Natal pun jadi bising.

Paus pada bagian awal permenungannya, sebelum meneteskan butir demi butir pesan, justru menyinggung kebisingan itu. Kebisingan Natal!

“Christmas is usually a noisy party: we could use a bit of silence, to hear the voice of Love,” kata paus. Natal sering menjadi pesta yang bising. Padahal kita dapat sejenak berhening untuk bisa mendengarkan suara Cinta.

Ya, suara Cinta! Suara ilahi, dalam sanubari, tak pernah berteriak atau memekik. Ia selalu hanya membisik. Dalam bising, suara itu mungkin akan sulit terdengar. Ia membutuhkan keheningan agar mendapat tempat. Suasana yang dipersyaratkannya mirip suasana sebuah persalinan. Suasana religius. Suasana ketika sang ibunda bertarung jiwa raga antara hidup dan mati. Suasana ketika batin sang ayah bergelut antara cemas dan harap.

Suasana inilah yang dipesankan paus dalam permenungannya. Adapun pohon, hiasan, lonceng, lampu, lagu, kartu, kado, kue, musik, dan lain-lain itu, silakan. Tak apa-apa koq, malah bagus, sejauh tidak melupakan fokus: sang bayi yang lahir dalam keheningan dan kesederhanaan.

Malahan pohon, hiasan, lonceng, lampu, lagu, kartu, kado, kue, musik, dan lain-lain itu akan sangat dianjurkan apabila tidak sekadar dijadikan “instrumentum” yakni titian menuju Allah, tetapi juga “sacramentum” yaitu tanda kehadiran Allah itu sendiri.

Aha! Lonceng Natal sudah berdentang. Selamat merayakan Natal. Natal yang bernas, bukan yang ampas. Natal yang hening, bukan yang bising. Beralihlah bumi dari bunyi ke sunyi.

Penulis adalah kolumnis, mantan Pemimpin Redaksi Harian Umum Flores Pos.

Tags: Frans AnggalNatal Tahun 2017

BacaJuga

Korban Gempa Flores Masih Dibebani Angsuran Pinjaman KUR

Korban Gempa Flores Masih Dibebani Angsuran Pinjaman KUR

2 October 2026
Dari Tenda Darurat ke Huntara; Harapan Baru Penyintas Gempa di Satar Ngkeling Manggarai

Dari Tenda Darurat ke Huntara; Harapan Baru Penyintas Gempa di Satar Ngkeling Manggarai

2 October 2026
Masa Tanggap Darurat Berakhir, Bupati Manggarai Tetapkan Status Transisi Pemulihan Selama 90 Hari

Masa Tanggap Darurat Berakhir, Bupati Manggarai Tetapkan Status Transisi Pemulihan Selama 90 Hari

28 September 2026
Bank NTT Beri Penangguhan Kredit kepada Nasabah Terdampak Gempa Flores

Bank NTT Beri Penangguhan Kredit kepada Nasabah Terdampak Gempa Flores

23 September 2026

ARTIKEL TERKINI

Forum Anak dan Remaja Disabilitas di Manggarai Resmi Dikukuhkan, Diharapkan Suarakan Hak-hak Disabilitas

Forum Anak dan Remaja Disabilitas di Manggarai Resmi Dikukuhkan, Diharapkan Suarakan Hak-hak Disabilitas

6 November 2026
Penuhi Hak Anak Disabilitas, BEN Lingko Lodok Libatkan Puskesmas hingga Pemerintah Desa

Penuhi Hak Anak Disabilitas, BEN Lingko Lodok Libatkan Puskesmas hingga Pemerintah Desa

6 November 2026

Sigap, Perumda Air Minum Tirta Komodo Ruteng Tangani Keluhan Pelanggan

6 November 2026

Pakai Dana Pinjaman, Pemkab Manggarai Anggarkan Rp 1, 4 Miliar untuk  Rehab Drainase 

6 November 2026

BANYAK DIBACA

Ngebut, Pengerjaan Proyek Revitalisasi Rp 2,1 Miliar di SMPN 1 Cibal  Dipastikan Rampung Sesuai Deadline

Penuhi Hak Anak Disabilitas, BEN Lingko Lodok Libatkan Puskesmas hingga Pemerintah Desa

Mengaku Hilang Barang Bernilai Puluhan Juta Rupiah, Stefany Diharjo Laporkan EH ke Polisi 

Pakai Dana Pinjaman, Pemkab Manggarai Anggarkan Rp 1, 4 Miliar untuk  Rehab Drainase 

Sekolah Lapang Gempa Bumi di Manggarai, Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Bencana

Sigap, Perumda Air Minum Tirta Komodo Ruteng Tangani Keluhan Pelanggan

  • Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Kontak kami 0812-8640-2616

© 2025 Berita Flores

No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL

© 2025 Berita Flores