RUTENG, BERITA FLORES – Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat dan Viktor Bungtilu Laiskodat beranjangsana di sebuah posko pengungsi penyandang disabilitas di Ruteng pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Dua politisi NasDem ini memberikan sumbangan sembako dan perlengkapan tidur, sebagai wujud kepedulian terhadap kelompok rentan di tengah situasi gempa.
Bantuan yang disalurkan yakni 200 kilogram beras, 10 lembar selimut, 10 dus mi instan, 10 liter minyak goreng, dan satu dus minyak kayu putih.
Julie Sutrisno berkata, penyandang disabilitas membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan pascagempa.
Keterbatasan yang dimiliki membuat kelompok tersebut lebih rentan ketika terjadi bencana.
“Yang memang kebutuhan khusus ya, tidak bisa melihat. Sehingga waktu gempa, kami tahu bahwa disabilitas dan tunanetra harus kita bantu. Karena pasti otomatis gempa itu kan kocar-kacir. Puji Tuhan mereka bisa ditampung di tempat sini,” ujar Julie.
Ia bilang, informasi yang masuk ke dirinya menyebut bahwa ada penampungan kelompok tuna netra di lokasi tersebut sangat membutuh dukungan.
Karena itu, Julie bersama Laiskodat pun bergerak hati menyambangi dan berbagai kasih dengan kelompok tuna netra.
Ia mengapresiasi sejumlah pihak yang telah menyediakan tempat bagi para penyandang disabilitas.
“Setelah beri bantuan kebutuhan hari ini, kami akan berlanjut terus. Karena biasanya orang datang bantuan sekali, satu kali sudah. Tapi padahal kan ini harus berkelanjutan,” ucapnya.
Selain bantuan kebutuhan dasar, Julie mendorong untuk adanya pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas dewasa. Dengan demikian, mereka mendapatkan penghasilan secara mandiri.
“Yang kebutuhan khusus ini, mereka mau supaya ada pelatihan, cara massage segala macam untuk bisa mencari nafkah,” katanya.
Di lain sisi, Julie juga mengajak semua pihak agar memberikan perhatian lebih kepada penyandang disabilitas di seluruh wilayah Flores, terutama yang terdampak gempa.
“Karena mereka tidak minta untuk keadaan yang begini, tapi mereka mempunyai hak yang sama,” katanya.
Andre Rohing, pendamping berkata, kondisi pertama kali tenda darurat ini dibuat, penyandang disabilitas mengalami kesulitan mendapatkan makanan dan kelengkapan alat tidur.
Hingga kin, sekitar dua puluh penyandang disabilitas mengungsi di lokasi tersebut.
“Jumlah tersebut bertambah dari sekitar 10 orang atau lima kepala keluarga pada awal pengungsian karena sejumlah penyandang disabilitas yang tinggal di kos dan rumah kontrakan mengalami kerusakan tempat tinggal serta kesulitan mendapatkan makanan,” ungkap Andre.
Ia menyebut kebutuhan lain yang masih mendesak adalah selimut dan alas tidur.
Sementara itu, Viktor Laiskodat menambahkan, bantuan bagi warga terdampak gempa telah disalurkan sejak bencana terjadi, meski kunjungan langsung ke lokasi baru mulai dilakukan.
“Ya, memang secara fisik kami baru, tapi sejak mulai terjadi bencana, bantuan sudah kami salurkan. Kita terus mendorong dari berbagai kabupaten yang mengalami bencana,” ujar Viktor.
Ia berharap penanganan bencana dilakukan melalui sinkronisasi antara pemerintah dan berbagai pihak, terutama mempercepat pemulihan infrastruktur, jaringan listrik, serta rumah warga yang terdampak.
“Saya lihat pemerintah pusat hari ini cukup cepat gerakannya.”
Menurutnya, kunjungannya bersama Julie juga ditujukan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang belum tersentuh bantuan di tengah luasnya dampak gempa.
“Tapi juga sekalian melihat yang tersisih, yang tidak sempat diselesaikan. Pasti saking banyaknya, ada yang kecil-kecil yang tidak sempat diselesaikan, kita ikut untuk berperan di situ,” ujarnya.
Ia menegaskan bantuan tidak hanya difokuskan di Kabupaten Manggarai, tetapi juga diarahkan ke lokasi lain yang belum terlayani.
“Prinsipnya begini, kami jalan ini untuk melihat yang tidak sempat dilayani. Tidak sempat dilayani, ya kami masuk ke sana. Banyak beberapa tempat yang sudah, ya sudah. Kita masuk yang tidak sempat terlayani saja,” kata Viktor.
Penulis: Adeputra





