RUTENG, BERITAFLORES – Guru bersama siswa-siswi tiga sekolah di wilayah Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, NTT, mengolah batangan bambu menjadi beragam barang kerajinan yang estetis.
Kegiatan dalam rangka mengisi kemeriahan peringatan Hari Anak Nasional 2026 ini melibatkan para guru dan siswa dari tiga sekolah, diantaranya SDK Woa, SMPN 7 Satar Mese dan SMAN 4 Satar Mese.
Berlangsung di area sekolah SMPN 7, kegiatan ini tampak disambut antusias oleh komunitas sekolah. Terpantau, para siswa dan guru kompak berkerjasama dalam bentuk tim saat mengolah bambu menjadi barang kerajinan yang hasilnya bakal mereka gunakan di lingkungan sekolah.
“Pukul 08.30 wita kegiatan project mulai dilakukan oleh masing-masing tim dari SDK Woa, SMPN 7 Satar Mese dan SMAN 4 Satar Mese. Tim diberi waktu yang sama selama 3 setengah jam untuk bisa menghasilkan berbagai karya seni sesuai inovasi dan kreatifitas dan kesepakatan tim itu sendiri”, kata Kepala SMPN 7 Satar Mese, Max Edon.
Sehari sebelumnya, ucap Max, narasumber dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) disebut-sebut telah bekali para peserta terkait pengetahuan dasar tentang bambu, teknik pemilihan bahan dan cara pengawetan.
Dengan begitu, tutur Max, peserta dapat menyelesaikan tantangan mengerjakan beragam hasil kerjainan bambu mereka tepat waktu.
“SDK Woa dapat menghasilkan beberapa kerajinan seperti meja, tempat sampah dan hiasan kelas, SMPN 7 mengerjakan pagar indah sekolah, tempat sampah, rak buku dan hiasan-hiasan minatur, sementara tim SMAN 4 juga mengerjakan produk yang lebih variatif seperti tulisan informatif yang dipajang di lingkungan sekolah, rak buku, kursi, dan sejumlah produk miniatur”, ungkap Max.
Sementara itu, Kepala SMAN 4 Satar Mese, Rofinus Renta, berbicara mengenai peran guru sebagai orangtua kedua bagi siswa dan siswi sekolah.
Rofinus berkata, selain mengajar di dalam kelas, para guru juga harus bisa mengasah dan mengembangkan kreatifitas siswa. Hal ini menunjukkan bagaimana guru juga bisa berperan menjadi orangtua kedua dari para siswa.
“Sayang anak, jaga dan lindungi masa depan adalah tema kegiatan kali ini. Maka kegiatan ini adalah cara kami sebagai orang tua untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak kami untuk berkreasi menyalurkan bakat dan potensi yang ada pada diri masing-masing”, kata Rofinus.
“Kasih sayang kami sebagai guru tidak selalu dalam bentuk pemberian uang. Maka besar harapannya agar dengan pelatihan dari YBLL ini, akan semua siswa memiliki bekal pengetahuan dan kesadaran akan pentingya menjaga dan merawat lingkungan, melihat semua potensi yang ada di desa terutama bagaimana mengolah bambu menjadi barang yang bernilai ekonomis”, sambungnya.
Selain mengapresiasi terselenggaranya kegiatan itu, Rofinus turut mengajak seluruh warga sekolah untuk ikut mulai menanam bambu, merawat dan menjaga lingkungan demi kehidupan yang akan datang.
Pada akhir kegiatan ini Koordinator Kabupaten Manggarai, Frederik Baru mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah dan para peserta atas kolaborasi yang terjadi selama kegiatan.
“Mudah-mudahan ini akan menjadi awal untuk kegiatan positif kedepan”, katanya.
Ia turut memuji keseriusan para peserta dalam menyelesaikan beragam kreasi bambu yang dihasilkan.
Sebagai apresiasi pihak YBLL memberikan doorprize kepada semua peserta sekaligus menyerahkan seluruh hasil karya yang telah mereka kerjakan.
Kegiatan pengolahan bambu menjadi beragam barang kerajinan tangan ini merupakan puncak dari serangkaian kegiatan Bamboo Goes to School yang dicanangkan oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL). (**)
Laporan: Tim BF





