• Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Friday, July 24, 2026
NEWSLETTER
Berita Flores
No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
No Result
View All Result
Berita Flores
No Result
View All Result
Home HEADLINE

‘Beauty Contest’ Pilkades

by Redaksi Berita Flores
30 October 2019
in HEADLINE, OPINI
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika politik masuk desa, pentasnya harus lebih santai. Tak ada kasak-kusuk yang membelah masyarakat. Tak ada vandalism yang menjalar di tiang-tiang pagar rumah. Semua mestinya menari karena ingin menyambut pembangunan sebagai pecahan dari Dana Desa.

Imajinasinya, pentas politik desa itu seperti “beauty contest”. Ajang Pemilihan Kepala Desa atau Pilkades itu mirip kontes kecantikan. Setiap calon menampilkan kebolehannya dan kegagahan untuk menarik pemilih. Ide dan misi membangun desa didengungkan biar semua masyarakat desa tahu. Pemikiran dan penampilan juga perlu dipamerkan. SDM desa tak boleh kalah dari meraka yang merasa hidup lama di kota.

Tak perlu ada kecurigaan. Tak perlu ada saling tuduh. Pilkades perlu dinikmati sebagai perayaan politik bersama untuk kebaikan bersama pula. Bukan orang lain yang membangun desa selain warga desa itu sendiri. Jadi, tak perlu ada gesekan dan kekerasan dalam Pilkades.

Masyarakat yang hidup dalam satu desa tak perlu terprovokasi oleh kepentingan segelintir orang. Provokasi itu biasanya datang dari mereka yang ingin mengais keuntungan ekonomi (proyek desa, dll) dari Pilkades. Masyarakat pemilih di desa harus berpikir untuk desa sendiri. Sikap sabar dan tenang mesti diutamakan. Tak perlu “tusuk sana-tusuk sini”. Jalani proses politik desa dengan jernih dan sesuai dengan aturan. Aturan menjadi “panglima” dalam Pilkades. Tak perlu ada pemaksaan kehendak.

Selebihnya, tunggu hari-H. “Gereng le tanda”, kata orang Manggarai. Itu lebih baik dan lebih aman. Tujuannya adalah untuk menghindari keterbelahan sosial pada masyarakat desa itu sendiri. Pada tipikal masyarakat desa yang gemeinschaft, jika terjadi pemecahan sosial maka hal itu akan berlangsung lama. Bahkan, perpecahan itu akan berdampak pada urusan-urusan keluarga, adat, dan proses pembangunan itu sendiri.

Yang jalas, dalam proses Pilkades, masyarakat desa sudah punya pilihannya sendiri. Mereka sudah cukup cerdas untuk melihat pemimpin atau kepala desa seperti apa yang mereka inginkan. Tentu saja kontestasi politik bukanlah hal yang baru bagi masyarakat desa.

Masyarakat desa memiliki nyaris semua kecakapan untuk menilai dan menakar calon pemimpin mereka sendiri. Mereka memiliki kecerdasan “kronikal” untuk melihat rekam jejak calon pemimpin; mereka memiliki kecerdasan emosial untuk merasakan karakater pemimpin seperti apa yang diinginkan; mereka memiliki kecerdasan “finansial” untuk menakar calon pemimpin menggunakan dana desa. Semua kecakapan itu cukup berfungsi sebagai antena politik di desa.

Kalau memang ada mobilisasi dan konvoi di ajang kontestasi politik desa, hal itu biasa. Namanya kontesasi, perlu juga ada unjuk kemeriahan. Seperti pada pesta pada umumnya, tanpa kemeriahan, joget, konvoi, arak-arakan, konstestasi politik tampak kian serem. Jika politik terlihat horor maka politik kita mati. Tak ada daya hidup maupun menghidupkan.

Padahal, politik desa itu seharusnya menghidupkan vitalitas kehidupan desa; menyemarakan kehidupan desa yang kadang remang dan sepi; dan menggerakkan denyut nadi ekonomi desa yang sering lamban.

Seperti beauty contest, politik desa mesti membelalakan mata masyarakat desa. Bahwa keindahan politik bisa menggairahan masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik dan maju.

Politik masuk desa bukan untuk merusak keharmonisan kehidupan masyarakat desa. Pilkades ada untuk menyegarkan proses kepemimpinan sekaligus mengevaluasi laku kepemimpinan. Optimisme pada Pilkades pertanda kehidupan dan pembangunan desa akan menjadi lebih baik.

Pembangunan desa itu bukan hanya untuk kepala desa dan kroni, tetapi untuk semua warga masyarakat desa. Dana desa itu dititipkan untuk kesejahteraan masyarakat desa. Dana desa itu disediakan agar taka da lagi desa yang terisolasi dari pembangunan yang kota-sentris.

Akhirnya, selamat memilih. Pilihlah kepala desa Anda dengan kepala dingin. Pilihlah kepala desa yang bukan untuk mengepalai proyek pembangunan, tetapi untuk memimimpin desa menuju kesejahteraan bersama.

Alfred Tuname
Penulis dan esais

BacaJuga

Sengketa Tanah Keranga di Labuan Bajo, Dittipidum Bareskrim Polri Panggil Pihak yang Diduga Terlibat

20 June 2026

Ketika Kekerasan Menghapus Rasa Aman dalam Rumah Tangga

19 June 2026

Pemerintah Harus Hadir Bukan Sekadar Janji

12 June 2026

Edi Hardum Beri Klarifikasi Soal Sebutan ‘Penjahat’ ke Mantan Kadis DP3AKB Matim

9 June 2026

ARTIKEL TERKINI

Anggaran Revitalisasi Rp1,6 Miliar Mengalir ke SMP Negeri 3 Cibal Barat

17 July 2026

500 Pohon Bunga Pucuk Merah dari Partai Demokrat untuk Kota ‘Molas’

17 July 2026

Pesan Haru Ketua TP-PKK Manggarai di Turnamen Pekan Olahraga U-15 Cibal

7 July 2026

Pertengahan Tahun 2026, Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Manggarai Sudah Capai 35 Kasus

7 July 2026

BANYAK DIBACA

Tiba di Kupang, Gubernur Melki Sambut Kedatangan Kepala Kejati Baru NTT Roch Adi Wibowo

Lampaui Target, Realisasi PAD Kominfo Manggarai 2020 Capai Rp219 Juta

‘Beauty Contest’ Pilkades

Karena Tak Ada TPA, Kantor Camat Reok Didemo Mahasiswa

Polemik Air Minum Bersih di Para Lando Makin Pelik, Tim Tekhnis PUPR dan Kades Disoraki ‘Tukang Tipu’

SMPK Immaculata Ruteng Dapat Anggaran Revitalisasi Senilai Rp 2,15 Miliar dari APBN

  • Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Kontak kami 0812-8640-2616

© 2025 Berita Flores

No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL

© 2025 Berita Flores