• Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Wednesday, May 6, 2026
NEWSLETTER
Berita Flores
No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
No Result
View All Result
Berita Flores
No Result
View All Result
Home HEADLINE

‘Beauty Contest’ Pilkades

by Redaksi Berita Flores
30 October 2019
in HEADLINE, OPINI
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika politik masuk desa, pentasnya harus lebih santai. Tak ada kasak-kusuk yang membelah masyarakat. Tak ada vandalism yang menjalar di tiang-tiang pagar rumah. Semua mestinya menari karena ingin menyambut pembangunan sebagai pecahan dari Dana Desa.

Imajinasinya, pentas politik desa itu seperti “beauty contest”. Ajang Pemilihan Kepala Desa atau Pilkades itu mirip kontes kecantikan. Setiap calon menampilkan kebolehannya dan kegagahan untuk menarik pemilih. Ide dan misi membangun desa didengungkan biar semua masyarakat desa tahu. Pemikiran dan penampilan juga perlu dipamerkan. SDM desa tak boleh kalah dari meraka yang merasa hidup lama di kota.

Tak perlu ada kecurigaan. Tak perlu ada saling tuduh. Pilkades perlu dinikmati sebagai perayaan politik bersama untuk kebaikan bersama pula. Bukan orang lain yang membangun desa selain warga desa itu sendiri. Jadi, tak perlu ada gesekan dan kekerasan dalam Pilkades.

Masyarakat yang hidup dalam satu desa tak perlu terprovokasi oleh kepentingan segelintir orang. Provokasi itu biasanya datang dari mereka yang ingin mengais keuntungan ekonomi (proyek desa, dll) dari Pilkades. Masyarakat pemilih di desa harus berpikir untuk desa sendiri. Sikap sabar dan tenang mesti diutamakan. Tak perlu “tusuk sana-tusuk sini”. Jalani proses politik desa dengan jernih dan sesuai dengan aturan. Aturan menjadi “panglima” dalam Pilkades. Tak perlu ada pemaksaan kehendak.

Selebihnya, tunggu hari-H. “Gereng le tanda”, kata orang Manggarai. Itu lebih baik dan lebih aman. Tujuannya adalah untuk menghindari keterbelahan sosial pada masyarakat desa itu sendiri. Pada tipikal masyarakat desa yang gemeinschaft, jika terjadi pemecahan sosial maka hal itu akan berlangsung lama. Bahkan, perpecahan itu akan berdampak pada urusan-urusan keluarga, adat, dan proses pembangunan itu sendiri.

Yang jalas, dalam proses Pilkades, masyarakat desa sudah punya pilihannya sendiri. Mereka sudah cukup cerdas untuk melihat pemimpin atau kepala desa seperti apa yang mereka inginkan. Tentu saja kontestasi politik bukanlah hal yang baru bagi masyarakat desa.

Masyarakat desa memiliki nyaris semua kecakapan untuk menilai dan menakar calon pemimpin mereka sendiri. Mereka memiliki kecerdasan “kronikal” untuk melihat rekam jejak calon pemimpin; mereka memiliki kecerdasan emosial untuk merasakan karakater pemimpin seperti apa yang diinginkan; mereka memiliki kecerdasan “finansial” untuk menakar calon pemimpin menggunakan dana desa. Semua kecakapan itu cukup berfungsi sebagai antena politik di desa.

Kalau memang ada mobilisasi dan konvoi di ajang kontestasi politik desa, hal itu biasa. Namanya kontesasi, perlu juga ada unjuk kemeriahan. Seperti pada pesta pada umumnya, tanpa kemeriahan, joget, konvoi, arak-arakan, konstestasi politik tampak kian serem. Jika politik terlihat horor maka politik kita mati. Tak ada daya hidup maupun menghidupkan.

Padahal, politik desa itu seharusnya menghidupkan vitalitas kehidupan desa; menyemarakan kehidupan desa yang kadang remang dan sepi; dan menggerakkan denyut nadi ekonomi desa yang sering lamban.

Seperti beauty contest, politik desa mesti membelalakan mata masyarakat desa. Bahwa keindahan politik bisa menggairahan masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik dan maju.

Politik masuk desa bukan untuk merusak keharmonisan kehidupan masyarakat desa. Pilkades ada untuk menyegarkan proses kepemimpinan sekaligus mengevaluasi laku kepemimpinan. Optimisme pada Pilkades pertanda kehidupan dan pembangunan desa akan menjadi lebih baik.

Pembangunan desa itu bukan hanya untuk kepala desa dan kroni, tetapi untuk semua warga masyarakat desa. Dana desa itu dititipkan untuk kesejahteraan masyarakat desa. Dana desa itu disediakan agar taka da lagi desa yang terisolasi dari pembangunan yang kota-sentris.

Akhirnya, selamat memilih. Pilihlah kepala desa Anda dengan kepala dingin. Pilihlah kepala desa yang bukan untuk mengepalai proyek pembangunan, tetapi untuk memimimpin desa menuju kesejahteraan bersama.

Alfred Tuname
Penulis dan esais

BacaJuga

Fabi Abu Lantik 19 Kepala SMP di Manggarai, Berikut Daftar Namanya!

2 May 2026

Tua Adat Pimpin Warga Sengari Deklarasi Sikap Dukung Kehadiran Perusahaan Porang di Reo

29 April 2026

Polemik Air Minum Bersih di Para Lando Makin Pelik, Tim Tekhnis PUPR dan Kades Disoraki ‘Tukang Tipu’

23 April 2026

Telan Dana Capai Rp 1 Miliar, Arlan Nala Desak Pemda Manggarai Segera Tuntaskan Polemik Air Minum Bersih di  Para Lando

22 April 2026

ARTIKEL TERKINI

Dari Timur NTT hingga Flores, BGN Pastikan Data Penerima MBG Tepat Sasaran

5 May 2026

Gunakan Mesin Digital, Kanis Nasak Optimis Tingkatkan PAD Sesuai Target

5 May 2026

Ranperda 2026: Fraksi Demokrat Dorong Pemerintah Permudah Izin Investasi, Termasuk Industri Porang di Manggarai

4 May 2026

Fabi Abu Lantik 19 Kepala SMP di Manggarai, Berikut Daftar Namanya!

2 May 2026

BANYAK DIBACA

Fabi Abu Lantik 19 Kepala SMP di Manggarai, Berikut Daftar Namanya!

Respon Penolakan Warga, Manajemen Perusahaan Porang di Reo Komit Operasional Tetap Berlanjut

Tak Lagi Pikirkan Pasar, Petani Porang Antusias PT Agro Porang Nusantara Hadir di Reo

Anggota DPRD Arlan Nala Tawarkan Investor Bangun Pabrik Porang di Wilayah Cibal Barat

Pemilik Perusahaan Pastikan Aktivitas Pengolahan Porang di Reo Beroperasi Ramah Lingkungan

Tua Adat Pimpin Warga Sengari Deklarasi Sikap Dukung Kehadiran Perusahaan Porang di Reo

  • Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Kontak kami 0812-8640-2616

© 2025 Berita Flores

No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL

© 2025 Berita Flores