LABUAN BAJO, BERITA FLORES – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi meluncurkan Sentra Pemenuhan Pangan Gizi (SPPG) wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Pulau Mesah, Desa Pasir Putih, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat-NTT pada Jumat, 2 Oktober 2026. Program MBG di pulau terpencil menjadi prioritas utama BGN.
Peluncuran tersebut menandai dimulainya layanan MBG bagi anak-anak dan kelompok rentan di Pulau Mesah.
Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional, Lili Khamiliyah mengatakan, peluncuran SPPG wilayah 3T di Pulau Mesah merupakan bagian dari peluncuran secara serentak di 16 provinsi di Indonesia. Program tersebut jelas dia, bakal terus diperluas secara bertahap ke wilayah-wilayah lainnya.
“Anak Indonesia di kota besar tentunya berbeda dengan di pulau kecil. Dan pulau kecil ini menjadi prioritas utama khususnya di Badan Gizi Nasional,” kata Lili.
Ia memastikan SPPG di wilayah tersebut telah siap beroperasi dan memberikan layanan pemenuhan gizi kepada masyarakat.
Lili mengungkapkan bahwa, untuk kelompok pelajar, penerima manfaat terdiri dari 270 siswa Sekolah Dasar Negeri Pulau Mesah, 59 siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Atap Pulau Mesah, serta 14 anak dari Kelompok Bermain Anemon Jaya. Dengan demikian, terdapat 343 siswa dan anak usia dini yang menjadi penerima manfaat.
Selain itu, menurutnya, program tersebut juga menyasar kelompok balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Jumlahnya sebanyak 217 orang.
“Jika digabungkan, total penerima manfaat SPPG Pulau Mesah mencapai 560 orang atau hampir 600 jiwa. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 35 persen dari total populasi Pulau Mesah,” sebutnya.
Sementara Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Manggarai Barat, Salvador Pinto, yang mewakili Bupati Manggarai Barat, menyampaikan apresiasi atas kehadiran SPPG di Pulau Mesah.
Kata dia, keberadaan SPPG tidak sekadar menjadi fasilitas pelayanan pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi bentuk nyata kehadiran pemerintah di wilayah kepulauan dan terluar.
“Kehadiran SPPG ini memiliki makna yang sangat penting, bukan sekadar fasilitas pelayanan pemenuhan gizi, tetapi merupakan wujud nyata kehadiran negara,” ujar Pinto.
Ia berharap program tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap penanganan persoalan stunting dan berbagai masalah kesehatan sekaligus mendukung terbentuknya generasi Manggarai Barat yang sehat dan berkualitas.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada Badan Gizi Nasional atas dukungan dalam menghadirkan program tersebut di Pulau Mesah,” katanya.
Ia berpesan, seluruh tim pengelola SPPG harus menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Kebersihan, mutu, ketepatan waktu, dan keamanan pangan menjadi hal penting.
“Bahwa kita melayani ini benar-benar, seolah-olah melayani anak kita sendiri, sehingga berikanlah kualitas yang terbaik,” pesannya.
Pinto juga mendorong agar koordinasi dengan perangkat daerah terkait terus diperkuat untuk memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang.
Koordinasi tersebut, antara lain melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan, dan Dinas Ketahanan Pangan.
Ketua DPRD Manggarai Barat, Benediktus Nurdin menilai, peluncuran SPPG di Pulau Mesah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak.
Program tersebut juga harus memberikan dampak berganda terhadap perekonomian masyarakat setempat.
Karena itu, ia mendorong penyajian MBG di Pulau Mesah memperhatikan kearifan lokal dan potensi sumber daya alam yang dimiliki masyarakat.
Hal tersebut dinilai relevan dengan karakteristik Pulau Mesah sebagai salah satu wilayah penghasil ikan.
“Penyajian MBG di Pulau Mesah harus berpihak pada kearifan lokal,” tegas Benediktus.
Ia berpendapat, penggunaan bahan pangan lokal dalam penyediaan makanan bergizi dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi penerima program, tetapi juga bagi masyarakat yang menjadi pemasok bahan pangan.
“Dengan adanya SPPG ini, tidak hanya anak-anak kita yang mendapatkan gizi yang baik, tetapi juga perekonomian masyarakat lokal akan terdorong,” ujarnya.
Senada dengan Benediktus, Salvador Pinto juga meminta agar ikan menjadi salah satu bahan pangan utama dalam menu MBG di Pulau Mesah.
“Utamakan menu yang disajikan adalah menu ikan, yang tentunya itu juga protein yang sangat tinggi. Tinggal bagaimana cara pengolahannya agar menjadi lebih baik,” kata Pinto.
Menurutnya, pemanfaatan potensi ikan lokal dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan menu bergizi sekaligus mendukung perekonomian masyarakat Pulau Mesah.
Demikian pula dikatakan Sekretaris Utama BGN Lili Khamiliyah. Ia menegaskan wilayah pulau-pulau kecil menjadi salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi nasional.
Ia bilang, kondisi masyarakat di wilayah perkotaan dan pulau kecil memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan perhatian dan pendekatan yang sesuai.
“Anak Indonesia di kota besar tentunya berbeda dengan di pulau kecil. Dan pulau kecil ini menjadi prioritas utama khususnya di Badan Gizi Nasional,” tegasnya. (AP/REDAKSI).





