RUTENG, BERITA FLORES – Hari Ulang Tahun (HUT) ke 1 tahun kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Liang Bua desa Liang Bua kecamatan Rahong Utara di warnai atraksi tarian ‘caci’ dari Komunitas Laki Caci Manggarai (LCM). Rabu (10/6/26) kemarin
Dalam atraksinya yang bertempat di Liang Nggalang itu, dua kelompok pemuda yang berbeda saling berhadapan. Disana mereka berhasil tampil memukau di hadapan ratusan wisatawan yang mendatangi lokasi itu.
Disana tampak Satu orang bertindak sebagai pemukul (paki) menggunakan cambuk dari kulit kerbau (larik), sementara yang lain bertindak sebagai penangkis (ta’ang) menggunakan perisai (agung) dan bambu melingkar (bowo). Mereka memainkan keduanya dengan hentakan yang cepat dan keras.
Meski luka cambuk yang diterima para pemain Caci terlihat menyeramkan, namun aksi yang hanya dilakukan oleh para pemain profesional ini berhasil memukau ratusan pasang mata yang memadati lokasi pertunjukan.
Luka bilur dan tetesan darah di badan sama sekali tidak menyurutkan semangat bertarung, melainkan justru menjadi simbol ksatria dan sportivitas yang tinggi.
Caci bukan sekadar tontonan adu fisik atau kekerasan, namun bagi masyarakat Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tradisi ini merupakan ritual adat yang sarat akan makna filosofis, lambang penghormatan dalam menyambut tamu-tamu kehormatan.
Suasana semakin semarak dengan iringan tabuhan gendang, gong, serta nyanyian adat (nenggo) yang membakar adrenalin para pemain untuk menari (loke) sebelum dan sesudah melepaskan cambukan.
Keberanian dan eksotisme yang ditampilkan dalam permainan Caci ini terbukti sukses menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Liang Bua.
Banyak penonton yang bergidik ngeri saat mendengar bunyi cambukan yang menggelegar, namun mereka tetap terpaku menyaksikan jalannya laga hingga usai.
Lea salah satu wisatawan asal Perancis mengaku terpukau dengan ritme musik gong dan gendang, serta ketangkasan para penari dalam mencambuk dan menangkis.
Menurutnya, perpaduan antara suara instrumen tradisional dan gerak dinamis para penari menciptakan atmosfer yang luar biasa dan belum pernah ia saksikan di tempat lain.
“Musik dan gerakannya sangat bertenaga. Ada ketegangan saat cambuk diayunkan, namun semuanya dilakukan dengan penuh rasa hormat dan kegembiraan. Ini adalah pengalaman budaya yang sangat berkesan bagi saya,” ujar Lea dengan nada kagum saat diwawancarai wartawan di sela-sela pertunjukan.
Sementara, Ketua Pokdarwis Liang Bua, Ignasius Paur mengatakan tarian Caci yang dibawakan pemuda desa Liang Bua dan Komunitas LCM dalam memeriahkan HUT ke 1 Tahun Pokdarwis Liang Bua.
Tarian Caci tersebut sengaja dipertontokan kepada para wisatawan yang datang berkunjung ke situs purbakala Homo Floresiensis tersebut.
Selain sebagai bentuk syukur atas eksistensi Pokdarwis selama setahun terakhir, atraksi ini juga bertujuan untuk menghidupkan kembali gairah pariwisata berbasis budaya di Manggarai.
“Kami ingin memberikan pengalaman yang berkesan bagi setiap pengunjung. Liang Bua tidak hanya tentang sejarah dan batu gua, tetapi juga tentang kekayaan tradisi yang masih dirawat oleh generasi mudanya,” ujar Ignasius.
Ignasius pun berkomitmen untuk terus berinovasi dan konsisten menyajikan paket wisata budaya secara berkala, guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan ke depannya.**
Laporan : Yhono Hande






