• Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Sunday, September 20, 2026
NEWSLETTER
Berita Flores
No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
No Result
View All Result
Berita Flores
No Result
View All Result
Home BERITA

Perlunya Rekonsiliasi Pasca Pilkades

by Redaksi Berita Flores
29 July 2019
in BERITA, HEADLINE, OPINI
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Herry Kabut

Bentuk dan pola pembangunan yang sekarang ini dikembangkan di desa yakni pembangunan partisipatif. Pembangunan partisipatif merupakan pola pembangunan yang telah lama dilaksanakan oleh bangsa ini jauh sebelum kemerdekaan, dan mayoritas masyarakat desa sudah menjadikan hal tersebut sebagai budaya, seperti dengan melaksanakan gotong royong, kerja bakti, serta tanggung renteng (partisipasi). Namun, pola yang dikembangkan dewasa ini merupakan penyempurnaan dari bentuk sebelumnya dengan lebih terpadu, terencana dan sistematik.

Berbagai program seperti yang sifatnya penanggulangan kemiskinan, bantuan kesehatan, pendidikan, pembangunan fisik dan sebagainya yang pernah ada, sering berupaya menepatkan masyarakat sebagai aktor atau pelaku utama. Namun realitasnya, pola pembangunan partisipatif belum berjalan secara maksimal (kalau tak mau dibilang belum tampak sama sekali). Hal ini terjadi karena masih ada semacam sentimen antarkontestan pada Pilkades.

Sentimen Pasca Pilkades

Pilkades menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidup kepala desa. Sebagian besar Kades dilahirkan dari proses pemilihan yang mengandung politik saling hasut di antara tim sukses dan mengumbar kelemahan lawan secara personal (bukan visinya). Dengan demikian, biografi yang baik tentu menjadi modal awal promosi calon kepala desa. Sebagai contoh para pendukung Kades A akan membanggakan gelar sarjananya dibanding kandidat yang lain. Begitupun juga para pendukung Kades B, tim pemenangan kepala desa membesarkan isu pendatang untuk meyudutkan rivalnya.

Ketegangan ini berlangsung hingga pasca Pilkades. Biasanya ketegangan berlangsung sementara karena karakter desa yang guyub. Mereka tak bisa menghindari interaksi antar warga, terutama pada kegiatan atau hajatan sosial. Apalagi kebanyakan warga desa mempunyai hubungan kekerabatan di antara warga lainnya.

Meskipun demikian, kita tidak boleh menutup mata bahwa ketegangan ini berpotensi untuk terus berlangsung dan bertumbuh dalam masyarakat. Pada beberapa desa di Manggarai Barat yang dikunjungi penulis bersama Kelompok Studi Tentang Desa (KESA) ketegangan pasca Pilkades sangat kental dan cukup berpengaruh dalam dinamika kehidupan di desa. Hal ini disebabkan karena pihak yang kalah dalam kontesatasi Pilkades masih belum dewasa dalam menerima kekalahan. Kondisi ini kemudian diperparah oleh sebagian oknum yang kemudian memprovokasi masyarakat lain untuk tidak terlibat dalam pembangunan desa. Dengan demikian muncul sebuh sikap semacam “pembangkangan” dan sikap apatis dari pihak yang kalah dalam rangka membangun dan memajukan desanya.

Kesan ini semakin kental dan cukup terpelihara dalam dinamika kehidupan di beberapa desa di Manggarai Barat. Dengan dalih menjadi oposisi, sentimen dengan pihak yang menang menjadi terus menguat. Hal ini kadang-kadang membuat Kades yang menang cukup kesulitan dalam menjalankan programnya sekalipun telah berusaha melibatkan seluruh warga baik yang mendukungnya maupun yang penjadi lawannya saat Pilkades. Sebab setiap program yang dimunculkan oleh Kades selalu dilihat sebagai upaya untuk memperkuat kekuasaannya dan hanya mementingkan kelompok pendukungnya.

Dalam beberapa kasus, mislanya di Desa Golo Bore, Kabupaten Manggarai Barat, upaya mengembangkan Badan Usaha Milik Desa menjadi terhambat karena masih terdapat sentimen terhadap Kades yang terpilih. Akibatnya, Desa Golo Bore yang sudah mempunyai BUMDes dengan Unit Usaha Beras sulit untuk berkembang. Sebab kubu sebelah yang kalah dalam kontestasi Pilkades tidak mau menjual berasnya kepada BUMDes. Padahal, BUMDes dapat membantu meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).

Rekosiliasi Pasca Pilkades

Terjadinya ketegangan pasca Pilkades, terutama kubu pendukung merupakan hal yang wajar. Namun, ketegangan tersebut tidak boleh dibiarkan berkembang dan bertumbuh secara terus menerus, apalagi menciptakan polarisasi dalam masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meredam ketegangan tersebut. Dalam rangka meredam ketegangan pasca Pilkades, rekonsiliasi antara pihak yang bertikai mutlak diperlukan. Rekonsiliasi merupakan upaya untuk meyatukan seluruh elemen masyarakat dalam desa dan kemudian bersama-sama berpartisipasi dalam membangun desa.

Dalam rangka rekosiliasi, Kepala Desa terpilih mempunyai peran yang sangat penting. Sebagai seorang pemimpin, dia mesti mempunyai strategi agar masyarakat yang bersih-tegang dapat bersatu kembali. Untuk meredam ketegangan, Kepala Desa mesti melibatkan lawan politiknya selain tim suksesnya pada jabatan atau uurusan pemerintahan desa.

*Penulis adalah Anggota Kelompok Studi Tentang Desa*



Tags: HERRY KABUTPILKADES

BacaJuga

Lamber Paput Pimpin Perumda Tirta Komodo usai Masa Jabatan Direktur Berakhir

Lamber Paput Pimpin Perumda Tirta Komodo usai Masa Jabatan Direktur Berakhir

2 September 2026
Korban Meninggal Dunia Gempa Flores M7,7 di Manggarai Terus Bertambah Jadi 50 Jiwa

Korban Meninggal Dunia Gempa Flores M7,7 di Manggarai Terus Bertambah Jadi 50 Jiwa

29 August 2026
Pemkab Manggarai Perpanjang Masa Tanggap Darurat Pascagempa Flores hingga 14 Hari ke depan 

Pemkab Manggarai Perpanjang Masa Tanggap Darurat Pascagempa Flores hingga 14 Hari ke depan 

28 August 2026
Lewat NasDem Peduli, Julie Laiskodat Salurkan Bantuan Sembako dan Obat di Manggarai

Lewat NasDem Peduli, Julie Laiskodat Salurkan Bantuan Sembako dan Obat di Manggarai

22 August 2026

ARTIKEL TERKINI

Bentuk Solidaritas Sosial dan Kepedulian; Ribuan Paket Sembako Disalurkan untuk Warga Terdampak Gempa di Flores 

Bentuk Solidaritas Sosial dan Kepedulian; Ribuan Paket Sembako Disalurkan untuk Warga Terdampak Gempa di Flores 

5 September 2026
Lamber Paput Pimpin Perumda Tirta Komodo usai Masa Jabatan Direktur Berakhir

Lamber Paput Pimpin Perumda Tirta Komodo usai Masa Jabatan Direktur Berakhir

2 September 2026
Korban Meninggal Dunia Gempa Flores M7,7 di Manggarai Terus Bertambah Jadi 50 Jiwa

Korban Meninggal Dunia Gempa Flores M7,7 di Manggarai Terus Bertambah Jadi 50 Jiwa

29 August 2026
Pemkab Manggarai Perpanjang Masa Tanggap Darurat Pascagempa Flores hingga 14 Hari ke depan 

Pemkab Manggarai Perpanjang Masa Tanggap Darurat Pascagempa Flores hingga 14 Hari ke depan 

28 August 2026

BANYAK DIBACA

Wabub Manggarai: 50 Tahun SDK Ruteng V Ciptakan SDM Unggul

SMPK Immaculata Ruteng Dapat Anggaran Revitalisasi Senilai Rp 2,15 Miliar dari APBN

LSM Ilmu yang Dipimpin Doni Parera Dituding Biang Kerok Kisruh Tanah Adat di Mabar

Temuan Korupsi Mega Proyek CSSD dan Laundry RSUD Ruteng, Negara Merugi Hingga Lebih dari Rp16 Miliar

Edi Hardum Beri Klarifikasi Soal Sebutan ‘Penjahat’ ke Mantan Kadis DP3AKB Matim

Sukseskan Tour de EnTeTe, Kapolres Manggarai Imbau Masyarakat Kendalikan Hewan Peliharaan di Sekitar Rute Lintasan

  • Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Kontak kami 0812-8640-2616

© 2025 Berita Flores

No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL

© 2025 Berita Flores