• Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Saturday, November 7, 2026
NEWSLETTER
Berita Flores
No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
No Result
View All Result
Berita Flores
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Catatan Pameran Pembangunan

by Redaksi Berita Flores
18 September 2018
in HEADLINE, OPINI
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Alfred Tuname

Pameran pembangunan sudah menjadi tren. Nyaris setiap Pemda di NTT menyelenggarakannya. Biasanya, pasca HUT RI, tanggal 17 Agustus. Setiap tahun diadakan.

Rutinitas pemeran dibuat. “Stand-stand” dibangun. Acara-acara digelar. Pentas-pentas dilombakan. Semua dimaksudkan untuk memeriahkan pameran.

Filosofinya, kemerdekaan melahirkan pembangunan. Ups, pembangunan tak berarti kesejahteraan. Persis seperti apa yang ada pameran. Nilainya, nihil. Hanya ada foto-foto tak bernilai dan diagram statis birokratis.

Pameran itu kata dasarnya “pamer”. Maknanya mengalami peyorasi. Kita sering dengar celoteh, sok pamer, show of. Artinya lainnya, gagah-gagahan. Aliran Postmodern menyebutnya “hyper reality”.

Jadi, ada kecenderungan manipulasi dalam setiap pameran. Kalau ada unsur manipulasi, seharusnya ada yang mewah dari sebuah pameran. Anggap saja manipulasi itu ditafsir sebagai optimisime (pembangunan).

Apa jadinya apabila pameran itu tak menyentuh sisi optimisme. Optimisme pembangunan dipagar oleh politik anggaran: tak ada dana. Kadang dimengerti sebagai alasan klise untuk imajinasi kreatif yang jongkok.

Padahal, masyarakat ingin menyaksikan gegap-gempita dari apa yang dipamerkan: apa yang sudah dibuat pemerintah dan apa optimismenya. Persis seperti masyarakat ingin menyaksiskan burung merak yang menujukan kemolekan bulu-bulunya.

Di Kabupaten Ngada, masing-masing instansi Pemda bersaing unjuk kreativitas seperti burung merak. Semacam ada persaingan dan gengsi. Yang kerja adalah para THL yang gajinya ditahan berbulan-bulan (mungkin, bendahara menyimpannya di Sibuhar koperasi dan bank dengan spekulasi keuntungan dari bunga).

Di Kabupaten TTU, pemeran pembangunan jadi “pasar malam” di depan kantor Bupati. Semua berjibaku untuk mengais keutungan ekonomi di pameran pembangunan. Itu cukup baik, sebab rakyat tidak pasif dalam pameran (asiknya, ada gerakan napak tilas sejarah Kefamenanu yang selenggarakan dengan perlombaan jalan bersama).

Seperti itu juga di Kabupaten Manggarai. “Pasar malam” di pameran pembangunan menguntungkan pihak pemerintah dan swasta. Ada retribusi yang menguntungkan. Pemerintah siapkan stand, pihak swasta siapkan dana. Mutualisme ekonomi berjalan baik. Persis seperti pasar malam, masyarakat terhibur di lapangan Motang Rua. Cuaca dingin tak jadi halangan.

Di Kabupaten Manggarai Timur, angin malam menjadi tantangan. Pameran Pembangunan diadakan di pinggir pantai. Tanpa penerangan listrik yang baik, masyarakat tak sadar wajahnya sendang dilumuri abu. Pemerintah tak peduli masyarakatnya berjibaku seperti budak yang menghadapi abu. Masyarakat kian pasif. Stand-stand dinas tanpa kunjungan; warung tanpa pengunjung; hiburan panggung tanpa tepuk tangan. Pengunjung lebih menikmati pojok-pojok remang dan gelap.

Itulah yang tampak dari setiap event pameran pembangunan. Tak ada yang baru, selain foto-foto yang baru dan keluhan para pegawai THL. Tak ada reward, hanya ada perintah: wajib jaga.

Selebihnya, ada “eksploitasi” kreativitas para siswa sekolah (SMP dan SMA). Mereka “diwajibkan” tampil. Para guru pun bekerja maksimal. Meski pun para siswa itu tak diberi makan (malam), para guru tak mendapatkan “penghormatan” yang layak, mereka tetap bersedia menghibur pengujung. Semua hanya “makan puji”. Seperti zaman Orde Baru, guru dan murid diwajibkan menjadi “pagar betis” ketika pejabat datang.

Padahal, kalau bupatinya punya punya insting seni dan visioner, pameran pembangunan pasti akan dibuat sedemikian megah dan memanjakan masyarakat. Pameran itu adalah “wajah” pemerintah di hadapan publik. Di situ, ada capaian; ada prospek.

Nah, pameran itu seperti rambut di kepala. Kalau penataan rambut saja tidak urus, itu berarti ada yang tidak beres dengan pribadi. Kalau pemaran pembangunan tidak diurus, berarti ada yang tidak beres dengan pembangunan. Jangan-jangan, tak ada pembangunan yang layak dipamerkan ke publik.

Jika estetika dan visi pembangunan yang jadi “rotor” event pameran, maka pameran pembangunan tentu akan mendapatkan manfaat bagi semua. Di sana, lapis-lapis masyarakat akan berjibaku dan aktif ambil bagian. Bukan hanya pegawai pemerintah dan pebisnis yang terlibat, tetapi segenap unsur masyarakat.

Sebab, pemaran pembangunan itu merupakan event bersama menikmati apa yang sudah buat oleh pemerintah dan masyarakat, sekaligus merayakan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Unsur politik pembangunan, budaya dan kohesi sosial seharusnya menjadi penyemarak pemerah pembangunan.

Orang Manggarai itu mengenal filosofi “natas bate labar”. Halaman/lapangan sebagai tempat bermain. Jika filosofi itu didekatkan dengan konsep pameran pembangunan, maka semua orang akan bisa menikmati pameran itu.

Sebab, filosofi natas bate labar mensyaratkan kebersamaan yang aktif dan kreatif. Hasilnya, menyenangkan. Pameran itu dekat dengan “labar/ bermain” yang bergelimang rasa gembira.

Tanpa kegembiraan publik, pameran pembangunan hanya menyisahkan sinis dan ketidakpercayaan publik kepada pemerintah. Selebihnya, pemerintah dianggap gagal menyelenggarakan pembangunan dan politik harapan (politics of hope).

Alfred Tuname
Penulis Buku “le politique” (2018)

 

 

 

 

 

 

BacaJuga

Korban Gempa Flores Masih Dibebani Angsuran Pinjaman KUR

Korban Gempa Flores Masih Dibebani Angsuran Pinjaman KUR

2 October 2026
Dari Tenda Darurat ke Huntara; Harapan Baru Penyintas Gempa di Satar Ngkeling Manggarai

Dari Tenda Darurat ke Huntara; Harapan Baru Penyintas Gempa di Satar Ngkeling Manggarai

2 October 2026
Masa Tanggap Darurat Berakhir, Bupati Manggarai Tetapkan Status Transisi Pemulihan Selama 90 Hari

Masa Tanggap Darurat Berakhir, Bupati Manggarai Tetapkan Status Transisi Pemulihan Selama 90 Hari

28 September 2026
Bank NTT Beri Penangguhan Kredit kepada Nasabah Terdampak Gempa Flores

Bank NTT Beri Penangguhan Kredit kepada Nasabah Terdampak Gempa Flores

23 September 2026

ARTIKEL TERKINI

Forum Anak dan Remaja Disabilitas di Manggarai Resmi Dikukuhkan, Diharapkan Suarakan Hak-hak Disabilitas

Forum Anak dan Remaja Disabilitas di Manggarai Resmi Dikukuhkan, Diharapkan Suarakan Hak-hak Disabilitas

6 November 2026
Penuhi Hak Anak Disabilitas, BEN Lingko Lodok Libatkan Puskesmas hingga Pemerintah Desa

Penuhi Hak Anak Disabilitas, BEN Lingko Lodok Libatkan Puskesmas hingga Pemerintah Desa

6 November 2026

Sigap, Perumda Air Minum Tirta Komodo Ruteng Tangani Keluhan Pelanggan

6 November 2026

Pakai Dana Pinjaman, Pemkab Manggarai Anggarkan Rp 1, 4 Miliar untuk  Rehab Drainase 

6 November 2026

BANYAK DIBACA

Ngebut, Pengerjaan Proyek Revitalisasi Rp 2,1 Miliar di SMPN 1 Cibal  Dipastikan Rampung Sesuai Deadline

Penuhi Hak Anak Disabilitas, BEN Lingko Lodok Libatkan Puskesmas hingga Pemerintah Desa

Mengaku Hilang Barang Bernilai Puluhan Juta Rupiah, Stefany Diharjo Laporkan EH ke Polisi 

Pakai Dana Pinjaman, Pemkab Manggarai Anggarkan Rp 1, 4 Miliar untuk  Rehab Drainase 

Sekolah Lapang Gempa Bumi di Manggarai, Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Bencana

Sigap, Perumda Air Minum Tirta Komodo Ruteng Tangani Keluhan Pelanggan

  • Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Kontak kami 0812-8640-2616

© 2025 Berita Flores

No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL

© 2025 Berita Flores