Panitia menggelar Rapat Pemantapan di Gedung MCC Ruteng, Sabtu, 26 Mei 2018. (Foto : Istimewa).

RUTENG, BERITA FLORES — Mejelang pelaksanaan Launching Sertifikasi Indikasi Geografis (SIG) Kopi Arabika Flores Manggarai (SIG-KAFM), Panitia penyelenggara pun menggelar rapat pemantapan, Sabtu, 26 Mei 2018.

Rapat dimulai pukul 08.00 waktu setempat di Gedung MCC Ruteng.

Rapat dipimpin oleh Sekertaris Daerah Kabupaten Manggarai, Manseltus Mitak. Manseltus merupakan Ketua Umum kegiatan yang dihadiri oleh para pejabat dari dinas terkait yaitu Pemkab Manggarai, Pemkab Manggarai Timur, para penggiat MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis), ASNIKOM (Asosiasi Petani Kopi Manggarai), LSM Ayo Indonesia, serta para pengusaha kopi.

Adapun beberapa kesepakatan yang diambil dalam rapat tersebut yaitu; pertama, kegiatan launching SIG-KAFM bakal digelar 30 – 31 Mei 2018 dengan dua agenda utama yakni kegiatan workshop dan kegiatan launching.

Kedua, kegiatan ini bakal menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Direktur Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (Dirjen HAKI) Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, Direktur Urusan Sinkronisasi Pemerintahan Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Direktur SNV, Direktur VECO/RIKOLTO, Perwakilan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dan Ford Foundation Jakarta.

Ketiga, kegiatan ini juga menghadirkan 50 petani kopi dengan rincian 20 orang dari Kabupaten Manggarai, 20 orang dari Kabupaten Manggarai Timur, dan 10 orang dari Kabupaten Manggarai Barat.

Keempat, tahapan persiapan, pelaksanaan, dan pembiayaan menjadi urusan bersama tiga kabupaten serta melibatkan para penggiat dan pengusaha kopi arabika.

Ketut Suastika, Asiten Bidang Administrasi, Perekonomian, dan Pembangunan Setda Kabupaten Manggarai, yang juga Ketua Pelaksana kegiatan mengatakan bahwa tujuan utama pelaksanaan launching SIG-KAFM ini adalah untuk mendukung para petani ke arah peningkatan kesejahteraan. Selain itu untuk mendorong produksi Kopi Arabika sesuai permintaan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri.

“Workshop ini diharapkan mampu menghasilkan sejumlah pikiran terkait peningkatan produksi melalui perluasan areal, peningkatan kualitas, dan kesinambungan produksi terhadap permintaan pasar,” ujarnya.

Pihaknya berharap seluruh stakeholder terkait untuk terlibat secara aktif dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

“Kita tidak mau SIG ini menjadi bahan tontonan saja. Ibarat lukisan, hanya sebatas mengagumi namun tidak memproduksi lagi. Terkait kopi arabika, kita harus mengedepankan konsep berpikir 3 K yaitu Ketersediaan, Kontinuitas, dan Kualitas,” urainya.

Secara terpisah, Yosep Sudarso, Perwakilan LSM Ayo Indonesia sekaligus Kepala Bidang Budidaya MPIG mengatakan bahwa selain SIG-KAFM, juga bisa dimanfaatkan Sertifikat Fair Trade. Kata dia, hal ini juga dapat berdampak pada peningkatan pendapatan petani.

“Dengan sertifikat Fair Trade kerjasama dengan ASNIKOM, pertama ada kesepakatan kuota harga di tingkat buyer (pembeli). Kopi yang sudah dijual premium setiap kilonya lalu diberikan ke ASNIKOM untuk kemudian dibagi kepada para petani,” tukasnya menyarankan.

Sementara itu Martin Robensi, seorang pengusaha kopi di Kabupaten Manggarai, mengapresiasi rencana digelarnya launching SIG-KAFM.

“Terbitnya SIG menjadi momentum tepat. Pertama, ini menjadi momentum bagi kebangkitan petani. Mari kita mulai berpikir bahwa bertani bukan hanya menjadi tugas dari para petani saja. Akan tetapi itu menjadi tugas bagi setiap kita, apapun profesinya, yang mau dan peduli pada kebangkitan petani kopi. Kedua, SIG merupakan momentum untuk merubah paradigma tentang petani kopi,” terang Martin.

Ia menjelaskan ini bukan hanya persoalan bagi petani kopi saja tetapi masalah bagi semua stakeholder. SIG kata dia merupakan kebutuhan para pengusaha akan kenyamanan, kepastian, kepercayaan, dan keberlanjutan.

Martin berharap dengan adanya workshop akan melahirkan sistem yang baru mulai dari hulu hingga ke hilir dalam rangka pemanfaatan kopi demi kesejahteraan bersama.

Hery Sia, Pengusaha Golomory Coffee, menyebutkan SIG-KAFM sebagai payung hukum yang semakin mempertegas identitas Kopi Arabika Manggarai.

“Sebagai pengusaha lokal, tujuan utama kita adalah mempromosikan kopi arabika asli Manggarai. Terbitnya sertifikasi ini berarti jelas ada payung hukumnya. Kita bisa lebih memperkenalkan lagi produk kopi arabika Manggarai. Dengan berkembangnya Labuan Bajo, itu menjadi ajang promosi untuk kita perkenalkan kopi asli Manggarai,” tuturnya.

Menurut Hery, hal paling utama dalam mempromosikan Kopi Arabika Manggarai adalah melalui peningkatan produktivitas dan mutu kopi itu sendiri.

Informasi yang diperoleh Beritaflores.com, bahwa Kopi Arabika asal Manggarai Raya, yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat (Mabar), dan Manggarai Timur (Matim), mendapat Sertifikat Indikasi Geografis (SIG).

Dengan begitu, jenis kopi ini pun sudah bisa diekspor langsung ke luar negeri.

Selain itu, Kopi Arabika dari tiga kabupaten itu layak mendapat SIG. Sebab dalam hasil penelitian Kementerian, kopi ini memiliki cita rasa khas dan aroma kuat dan mendapat skor nilai 86. (WIL/NAL/FDS/BEF).

Previous articlePejalan Kaki di Ruteng Tewas Ditabrak Mobil Pick Up
Next articleLaiskodat Ajak Masyarakat di Kabupaten Ende Tolak Isu SARA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here