RUTENG, BERITA FLORES- Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira menggelar kegiatan penguatan Gerakan Kebajikan Pancasila (GKP) kepada ratusan masyarakat dan relawan di Aula St.Yoseph Assumpta Ruteng, Jumat (23/11/2026).
Sebanyak 200-an peserta yang hadir tersebut terdiri dari sejumlah tokoh masyarakat, relawan, tokoh muda, dan mahasiswa ini bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Fondasi Perdamaian Dunia”.
Kegiatan yang bekerjasama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini juga dihadiri oleh bupati Manggarai, Heribertus G.L Nabit, 3 Narasumber utama, para anggota DPRD dari Fraksi PDIP.
Dalam sambutannya, Andreas memaparkan tentang sejarah lahirnya Pancasila dengan figur Bung Karno hingga perjuangannya sampai pengasingan di Ende, Flores. Dari sana komunikasi, interaksi dan perjuangan hingga lahirnya Pancasila berasal.
Andreas menggarisbawahi, pentingnya ideologi negara yang mengikat seluruh masyarakat, sebagaimana adat istiadat mengikat persaudaraan di daerah.
Ia pun mengingatkan kembali sejarah erat antara Bung Karno, Flores, dan Pancasila, di mana Bung Karno mendapatkan inspirasi mendalam saat menjalani masa pembuangan di Kabupaten Ende, Flores.
Menurutnya, Bung Karno sudah terlibat aktif dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
Ia menyampaikan alasan Bung Karno dibuang ke Ende, bahwa Pada tahun 1926, Bung Karno memuat tulisan berjudul “Nasionalisme, Islam dan Marxisme” yang dimuat secara berseri di Jumal Indonesia Muda yang pokok tulisan ini adalah pemikiran Bung Karno tentang pentingnya persatuan semua golongan dalam melawan imperialisme dan kolonialisme.
Sementara, pada tanggal 4 Juni 1927, Bung Karno mendirikan organisasi politik bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) yang tujuannya adalah mencapai Indonesia Merdeka.
Perkembangan PNI yang pesat membuat Pemerintah Hindia Belanda ketakutan dan pada tanggal 24 Desember 1929 pemerintah Hindia Belanda mengadakan penggeledahan dan menangkap empat pemimpin PNI yakni: Bung Kamo, Maskun, Gatot Mangkupradja dan Supriadinata.
Dalam sidang di pengadilan, Bung kamo menyampaikan pidato pembelaannya yang terkenal dengan nama “Indonesia Menggugat”. Bung Kamo dijatuhi hukuman 4 tahun kurungan di penjara Sukamiskin. Setelah menjalani masa hukuman selama 3 tahun, Bung Kamo dibebaskan pada bulan Desember 1931.
Sementara Bupati Manggarai Herybertus G.L Nabit dalam kesempatan itu menekankan bahwa nilai solidaritas dan kebersamaan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, khususnya dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Menurutnya, situasi bencana yang dialami masyarakat Manggarai menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian, semangat gotong royong, dan persaudaraan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila.
Bupati Hery juga menjelaskan bahwa rumah-rumah yang terdampak bencana dikelompokkan berdasarkan tingkat kerusakannya. Penilaian tersebut dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bukan oleh Bupati maupun pemerintah daerah.
Ia menegaskan bahwa pengelompokan tingkat kerusakan harus mengacu pada hasil penilaian pihak yang berwenang agar penanganan dan bantuan bagi masyarakat terdampak dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Lebih lanjut, Bupati Hery mengingatkan bahwa Kabupaten Manggarai saat ini masih berada dalam masa transisi dari keadaan darurat menuju pemulihan. Dengan demikian, meskipun proses pemulihan mulai berjalan, kondisi darurat belum sepenuhnya berakhir.
“Oleh karena itu, saya meminta agar kegiatan-kegiatan yang bersifat pesta atau perayaan dilaksanakan secara sederhana. Kita perlu menunjukkan solidaritas dan kepekaan terhadap saudara-saudara kita yang masih terdampak bencana,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Hery menyampaikan apresiasi kepada PDI Perjuangan dan Bapak Hugo Parera selaku Anggota Komisi XIII DPR RI atas terselenggaranya kegiatan penguatan relawan Gerakan Kebajikan Pancasila tersebut.
Ia berharap kegiatan ini dapat semakin memperkuat pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai Pancasila sekaligus mendorong penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam menghadapi situasi sulit akibat bencana.
Menutup sambutannya, Bupati Hery mengajak seluruh masyarakat, khususnya masyarakat adat Manggarai, untuk terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai Pancasila sebagaimana mereka menjaga nilai-nilai budaya Manggarai.
“Mari kita jaga nilai-nilai Pancasila seperti halnya kita menjaga nilai-nilai budaya Manggarai. Dengan menjaga nilai-nilai budaya Manggarai, kita juga sedang menjaga nilai-nilai luhur Pancasila,” tutupnya.**
Laporan: Yhono Hande





