• Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Wednesday, February 11, 2026
NEWSLETTER
Berita Flores
No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL
No Result
View All Result
Berita Flores
No Result
View All Result
Home BERITA

Proyek Lapen Wae Nenda-Bawe: Upah Pekerja Tak Dibayar hingga Rusak Parah

by Redaksi Berita Flores
14 February 2021
in BERITA, HEADLINE
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

BORONG, BERITA FLORES — Kabar mengharukan datang dari Kabupaten Manggarai Timur, Flores-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya, akhir 2020 lalu, keluarga Yan Salim masuk dalam fase kepayahan. Ia bingung bagaimana lagi cara untuk menopang ekonomi keluarganya.

Dampak pandemi Covid-19 sangat terasa di keluarga asal Lompong, Desa Golo Lembur, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur itu. Sumber-sumber pendapatannya mulai berkurang. Lapangan pekerjaan pun semakin susah didapatkan. Apalagi ia hanya seorang petani miskin, yang sumber penopang ekonomi keluarga hanya menjadi buruh.

Meski keluarganya mendera kala itu, namun Salim tidak putus asa. Ia terus mencari pekerjaan hanya sekadar bertahan hidup. Tidak lama berselang, kabar gembira menghampirinya. Salim diajak pria bernama Agus, sub kontraktor proyek peningkatan ruas jalan Benteng Jawa-Heret-Bawe (Segmen: Wae Nenda-Kp Bawe) di Kecamatan Lamba Leda. Ia diajak untuk bekerja pada proyek senilai Rp964.976.049,61 itu.

Setelah diajak, Salim pun mulai meninggalkan keraguan. Hatinya berbunga-bunga karena tidak lama lagi, ekonomi keluarganya kembali pulih dengan bekerja di proyek tersebut sebagai buruh kasar.

Tidak pakai waktu lama, Salim pun mencari warga yang lain untuk ikut bekerja dengannya, sebagaimana diminta Agus. Sebagian warga memilih pekerjaan menyiram kerikil dan cairan aspal. Sementara Salim dan lima temannya memilih bekerja pada pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT). Sebelum bekerja Salim dan Agus bersepakat dibandrol dengan harga Rp150.000 per meter kubik. Salim dan teman-temannya pun semangat bekerja karena harga upah mereka dinilai cocok.

Ia dan teman-temannya tidak hitung lagi berjalan kaki puluhan kilometer dari Kampung Lompong menuju lokasi proyek yang terletak di Desa Golo Nimbung. Mereka keluar rumah sekitar pukul 05.00 Wita setiap hari kerja. Salim mengaku, mereka bekerja tiga titik TPT. Total uangnya diperkirakan mencapai 20-an juta lebih.

“Memang belum diukur semua tiga titik itu. Tapi kami pekerja, bisa tahu perkiraannya sekitar 20-an juta lebih,” kata Salim kepada wartawan, Sabtu (13/02/2021) malam.

Setelah gambaran angka uang itu muncul di kepala Salim, ia pun mulai memikirkan belanja prioritas agar keluarganya bisa bertahan hidup. Salah satunya ialah beras untuk kebutuhan makanan. Sayangnya, gambaran dan asa itu semu. Harapan mendapatkan uang di balik “keringat” mereka ternyata tidak berbuntut mulus. Tenaga mereka hanya dibalas dengan rasa kecewa. Pasalnya, sudah dua bulan setelah pekerjaan selesai, hingga kini uang mereka tidak kunjung dibayar oleh kontraktor. Salim sendiri mengaku bingung mengadu ke siapa atas ulah CV Oase, kontraktor pelaksana yang tidak kunjung membayar upah mereka.

Lapen Rusak Parah

Tidak hanya soal upah pekerja, fakta miris yang menyelimuti proyek tersebut ialah kondisi lapisan penetrasi macadam (lapen) yang tampak rusak parah. Padahal, proyek baru saja selesai dikerjakan akhir 2020 lalu. Pantauan awak media, Jumat (12/02/2021) lalu, proyek lapen tersebut sudah rusak di beberapa titik. Kerusakan paling parah terdapat di beberapa pendakian dan tikungan. Di titik ini aspal sudah rusak dan pecah-pecah. Konstruksi batu kerikil yang direkat dengan semen aspal tampak sudah terkupas. Bahkan, di tengah badan jalan tampak berlubang.

Tidak hanya itu, tampak satu TPT yang tidak dilanjutkan pengerjaannya. Sementara sebagian yang lain sudah selesai dibangun setinggi badan jalan. Parahnya, di lokasi proyek tidak ditemukan papan informasi. Padahal papan informasi proyek penting dipajang. Hal itu agar publik bisa mengakses informasi seputar proyek yang sedang dikerjakan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas PUPR Kabupaten Manggarai Timur, Ibrahim Mubarak, mengatakan, proyek peningkatan ruas jalan Benteng Jawa-Heret-Bawe (Segmen: Wae Nenda-Kp Bawe) sudah selesai dikerjakan dan masuk pada masa pemeliharaan. Terkait kondisi aspal yang rusak, Ibrahim menegaskan, kontraktor masih mempunyai kewajiban untuk memperbaikinya selama masih dalam masa pemeliharaan selama satu tahun ke depan.

“Kerusakan yang terjadi masih menjadi tanggung jawab dari kontraktor dan itu jelas tertuang dalam kontrak,” tegas Ibrahim saat dihubungi melalui WhatsApp, Sabtu (13/02/2021).

Secara umum pekerjaan kontruksi, jelas dia, diuji atau dihitung secara kuantitas maupun kualitas. Sedangkan terkait, papan informasi yang tidak terpasang di lokasi proyek menurut Ibrahim, karena sudah lewat masa konstruksinya.

“Kecuali msh dalam proses konstruksi atau konstruksi dalam pekerjaan (KDP), itu wajib terpasang,” imbuh Ibrahim.

Sementara itu, Direktur CV Oase Karolus Ndoi Jewaru menjelaskan, awalnya proyek tersebut bukan berada di Desa Golo Nimbung melainkan di Desa Tengku Leda, Kecamatan Lamba Leda. Di lokasi awal dalam rancangannya, kata dia, ada tembok penahan tanah termasuk lapen dan bakal digarap dengan nomenklatur rehabilitasi.

Namun demikian, jelas Karolus, dalam perjalanan ada perubahan dari Dinas PUPR Manggarai yakni lokasi proyek ada di Desa Golo Nimbung. Hal itu disebabkan dalam nomenklatur ada segmen dan peningkatan.

“Karena di situ peningkatan, ada telford, saya ajukan keberatan kemarin kalau ada tembok penahan. Uangnya tidak pas,” jelas Karolus melalui sambungan telepon, Sabtu malam.

Sebab itu, CV Oase berkosentrasi pada peningkatan jalan dari telford ke lapen untuk memenuhi jangkauan, sesuai kebijakan Pemda Manggarai Timur 10 km/kecamatan. Menurut dia, jika memaksa harus membuat TPT, maka bisa berdampak pada volume jalan berkurang.

“Tapi kalau ada sisa dana maka bisa buat TPT,” imbuhnya.

Ia berjanji akan memperbaiki kerusakan jalan tersebut, karena saat ini memang masih dalam masa pemeliharaan dan masih menjadi tanggung jawabnya sebagai rekanan.

Mengenai Upah

Karolus mengaku pihaknya sudah memberitahukan kepada Agus, sub kontraktor bahwa memang ada pembangunan TPT, tetapi menunggu dana sisa. Setelah koordinasi tersebut kemudian bersepakat untuk konsentrasi ke pekerjaan lapen. Belakangan entah mengapa Agus menyuruh masyarakat sekitar membuat TPT. Karolus sendiri mengaku tidak mengetahui kesepakatan antara Agus dan pekerja dalam membangun TPT tersebut.

“Akhirnya sampai di tengah perjalanan kami bingung, tiba-tiba ada tembok penahan, dari mana?” tukas Karolus.

Sejauh ini, lanjut dia, sebenarnya proyek tersebut masih menjadi tanggung jawab Agus sebagai sub kontraktor. Pihak Karolus kemudian mengambil alih pekerjaan tersebut karena selama tiga minggu sebelumnya, tidak kemajuan pekerjaan fisik di lapangan. Padahal uang, kata dia, sudah diterima Agus. Sedangkan uang pekerjaan TPT, Karolus menimpali bahwa hal itu merupakan kesepakatan Agus dan pekerja. Termasuk dirinya pun merasa tertipu oleh ulah Agus.

Sebab itu, ia berjanji bakal menempuh jalur hukum, jika persoalannya bersama Agus tidak bisa diselesaikan. Apalagi, kata dia, sudah ada kesepakatan hukum antara dirinya dengan Agus sebagai sub kontraktor. Sementara itu, hingga berita ini dirilis Agus belum berhasil dikonfirmasi. Meski dihubungi berkali-kali melalui nomor ponselnya, namun hingga kini belum direspon. (TIM).

Tags: PROYEK LAPENPROYEK TAK BERKUALITASPROYEK WAE NENDA-BAWE

BacaJuga

Di Balik Berita: Moralitas, Psikologi dan Integritas Jurnalis dalam Menjaga Kebenaran

10 February 2026

Sinergi Pers dan Dekranasda: Mendorong UMKM Manggarai Menembus Pasar Nasional

10 February 2026

Melki Laka Lena Minta Pers Kritis Mengawal Pembangunan dan Dinamika Demokrasi

9 February 2026

Tersangkut Bebatuan Sungai, Korban Terseret Arus di Lemarang Ditemukan Tak Bernyawa

9 February 2026

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Berita: Moralitas, Psikologi dan Integritas Jurnalis dalam Menjaga Kebenaran

10 February 2026

Sinergi Pers dan Dekranasda: Mendorong UMKM Manggarai Menembus Pasar Nasional

10 February 2026

Melki Laka Lena Minta Pers Kritis Mengawal Pembangunan dan Dinamika Demokrasi

9 February 2026

Tersangkut Bebatuan Sungai, Korban Terseret Arus di Lemarang Ditemukan Tak Bernyawa

9 February 2026

BANYAK DIBACA

Bupati Hery Nabit Lantik 4 Pejabat Eselon II, Camat Reok Barat jadi Kadis PMD Manggarai

Siswa SD Berusia 10 Tahun di Ngada, NTT Gantung Diri Diduga karena Tak Mampu Beli Buku

Pemda Manggarai Resmi Serahkan 991 SK PPPK Paruh Waktu, BKN Batalkan 1 Orang karena Bermasalah

Tersangkut Bebatuan Sungai, Korban Terseret Arus di Lemarang Ditemukan Tak Bernyawa

Di Balik Berita: Moralitas, Psikologi dan Integritas Jurnalis dalam Menjaga Kebenaran

NTT Mart UBSP Lembu Nai, Ajang Kompetisi UMKM dan Perluas Akses Pasar Produk Lokal

  • Redaksi
  • Pedomaan Media Siber
Kontak kami 0812-8640-2616

© 2025 Berita Flores

No Result
View All Result
  • POLITIK
  • HUKUM
  • GAGASAN
  • SOSIAL BUDAYA
  • EKBIS
  • PARIWISATA
  • DESA
  • ADVERTORIAL

© 2025 Berita Flores