RUTENG, BERITA FLORES- PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Nusa Tenggara Timur telah menyiapkan skema penangguhan kredit bagi para nasabah yang terdampak gempa bumi di Pulau Flores. Namun, hingga saat ini belum ada satu pun debitur yang mengajukan permohonan keringanan kredit.
Direktur Utama (Dirut) Bank NTT Charlie Paulus menjelaskan, skema yang disiapkan Bank NTT adalah dua jenis. Hal itu disiapkan untuk menangani nasabah yang terdampak bencana gempa bumi di Pulau Flores.
Menurut Charlie, Bank NTT bergerak cepat merespons kondisi darurat pascagempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu. Bank NTT juga telah menerbitkan imbauan kepada para debitur yang terdampak agar memanfaatkan skema tersebut untuk meringankan beban para penyintas.
“Dari mereka itu belum ada permintaan resmi untuk merestrukturisasi mereka punya kredit tapi kami sudah siapkan jauh-jauh hari programnya, bisa penangguhan pembayaran pokok, atau penangguhan pembayaran pokok dan bunga,” jelas Charlie kepada wartawan Selasa, 22 September 2026.
Charlie menjelaskan, ada dua pilihan skema yang disiapkan Bank NTT antara lain, debitur dapat memilih penangguhan pembayaran pokok atau penangguhan pembayaran pokok dan bunga.
Untuk penangguhan pembayaran pokok, skema yang disiapkan berlaku selama satu bulan. Sementara jika debitur meminta penangguhan pembayaran pokok dan bunga, waktunya diberikan selama tiga bulan.
“Kalau dia minta penangguhan pokok saja maka skema yang disiapkan hingga satu bulan. Sementara penangguhan pokok dan bunga selama tiga bulan,” ujar Charlie.
“Kalau dia minta penangguhan pokok dan bunga tidak bayar ya kita tidak bisa lama-lama juga ya, kita siapkan skemanya tiga bulan,” tambahnya.
Charlie menyebut Bank NTT masih akan mengevaluasi efektivitas skema tersebut. Namun, jika dampak gempa tergolong parah, bank siap menyiapkan skema yang lebih baik.
“Apakah ini efektif sudah bisa menolong mereka atau tidak? Kan ini kita juga belum tahu dampaknya seperti apa. Kalau yang parah kan berarti perlu skema yang lebih bagus,” ungkapnya.
Menurut dia, dalam kondisi bencana, kebijakan pelonggaran pembayaran pinjaman bisa dihadirkan baik oleh regulator maupun bank. Saat ini Bank NTT proaktif memantau dan mendata usaha nasabah yang terdampak. Beberapa wilayah seperti Borong disebut menjadi daerah paling parah terdampak gempa.
“Tapi sejauh ini mereka belum ajukan tapi kami data nasabah yang terdampak. Mereka belum ajukan tapi kami sudah lihat tempat usaha mereka rusak,” kata Charlie.
Ia menjelaskan, nasabah Bank NTT di wilayah Flores cukup banyak. Namun, hingga saat ini belum ada nasabah yang mengajukan skema penangguhan yang telah disiapkan.
“Kurang lebih yang sudah kami data ada sekitar 52 atau 53 nasabah yang terdampak. Tapi mereka belum ajukan skema yang disiapkan Bank NTT,” tukas dia.**
Penulis : Yhono Hande






