RUTENG, BERITAFLORES – Sudah hampir sebulan Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai di Nusa Tenggara Timur, mengalami kelangkaan Bahan Bakar Minyak atau BBM.
Saban hari pengendara baik roda dua dan empat berantrean memanjang di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
Kebanyakan, pengendara mengantre untuk membeli bahan bakar bersubsidi jenis solar dan pertalite.
Di tengah situasi krisis ini, SPBU Carep, salah satu stasiun pengisian bahan bakar di Ruteng malah mengizinkan kendaraan yang diduga rusak untuk mengisi bahan bakar, sebagaimana mereka melakukan bagi pengendara umumnya.
Pantauan wartawan pada Jumat, 5 September 2025, tampak salah satu kendaraan roda dua yang diduga rusak ikut mengantre untuk mengisi bahan bakar.
Ia kemudian mendorong motornya keluar dari SPBU usai diisi bahan bakar.
Pemilik kendaraan tersebut tampak mengeluarkan lagi bahan bakar dari tangki motor miliknya itu, untuk di isi kedalam botol bekas kemasan air mineral sebelum dijual kembali.
BBM botol kemasan air inilah yang biasanya mereka gunakan untuk menjual bahan bakar dalam bentuk eceran di pinggiran jalan raya. Lokasinya pun tidak jauh. Persis di depan SPBU itu.
Tak berhenti di situ, selang berapa menit kemudian ia ikut lagi mengantre seperti pengendara lainnya yang berada di barisan.
Sehabis isi bahan bakar, pemilik motor itu keluar lagi dari SPBU tanpa menghidupkan mesin motornya, lalu mengulangi lagi aksi serupa; menyalin BBM dari tangki ke botol dan jerigen kecil.
Hendrik, salah satu pengendara yang pernah ikut berantrean di stasiun itu berkata, praktik-praktik semacam ini sudah hampir biasa dilakukan oleh para oknum itu.
Aksi ini, kata dia, tidak hanya dilakukan oleh satu pengendara, tetapi ada pengendara lain yang melakukan aksi serupa.
“Mereka sepertinya sudah sering,” kata Hendrik.
Anehnya, pihak SPBU malah membiarkan praktik-praktik itu. Mereka dinilai bersekongkol.
Ia menyayangkan sikap pihak SPBU yang membiarkan orang melakukan hal itu.
“Mereka (pihak SPBU) tetap mengisi kendaraan-kendaraan itu, walaupun mereka tahu ada kendaraan rusak yang mengantre,” terangnya.
Kelangkaan BBM ini terus menjadi sorotan. Pada Kamis kemarin, Lembaga Peneliti Pengkaji Demokrasi Masyarakat (LPPDM) menyentil dalam pernyataan sikap mereka saat demonstrasi di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Manggarai.
Ketua LPPDM, Marsel Ahang, kelangkaan BBM yang berkepanjangan di wilayah NTT, terutama Manggarai, telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian masyarakat. Kondisi ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam manajemen distribusi energi nasional.
“Kami menuntut kepada Kementerian ESDM lakukan pengawasan ketat dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM di seluruh wilayah NTT dengan pemberian sanksi tegas kepada pihak yang lalai,” ujar Ahang.
Ia meminta Kapolda NTT agar membentuk tim Penyidik Tindak Pidana Khusus untuk melakukan penyelidikan mendalam (pulbaket) terhadap PT Pertamina Persero di setiap wilayah NTT terkait dugaan kelalaian distribusi.
“Kepada Kapolri, proses secara hukum tanpa pandang bulu Menteri ESDM, direktur utama, dan seluruh jajaran pengawas PT Pertamina di seluruh Indonesia yang terbukti berkontribusi pada terjadinya krisis BBM sistemik ini,” kecam dia.
Media ini sudah berupaya mengonfirmasi Pengawas SPBU Carep Gabriel Ampur melalui WhatsApp, namun belum direspons. (**)
Laporan: Adrianus Paju







