RUTENG, BERITA FLORES – Program rehabilitasi gedung sekolah dari dana revitalisasi di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai tahun anggaran 2026 mulai memasuki tahap pelaksanaan.
Pembangunan ini menjadi langkah nyata pemerintah untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan layak bagi siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Kepala SMPN 2 Wae Ri’i, Yulius Eric Pery, yang ditemui media ini, Jumat (12/12/2026) menerangkan, bahwa secara keseluruhan kegiatan revitalisasi di sekolahnya sudah masuk pelaksanaan sejak Senin 12 Oktober 2026 lalu.
Diyakini pekerjaan yang dilaksanakan melalui skema swakelola itu, secepatnya rampung hingga Desember mendatang.
“Pekerjaan memang baru berjalan 4 hari, karena tergantung uang masuk kemarin, pekerjaan selama 90 hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, beberapa item pekerjaan di SMPN 2 Wae Ri’i itu dibangun dari dana revitalisasi pada Tahun 2026 dengan total anggarannya Rp. 1.633.932.000. Semua anggaran itu bersumber dari APBN.
Beberapa item pekerjaan itu meliputi, rehabilitasi 9 ruang kelas beserta prabotnya dan penataan taman. Pekekerjaan itu seperti penggantian atap, plafon, kusen, hingga pemasangan keramik dan beberapa item lainnya.
“Ke 9 ruang kelas ini memang mengalami kerusakan, 7 yang mengalami rusak sedang, 2 lainnya alami rusak berat. Sehingga dilakukan perbaikan dari lantai, penambahan tembok atau tiang, serta atap (seng spandek). Sementara untuk penataan lingkungan atau halaman, itu disebabkan karena tembok penahannya sudah ambruk,” jelas Kepsek Erick.
Kemudian lanjut dia, dari setiap ruangan yang di rehab ini masing-masing adanya penanggung jawab internal pekerja.
Kendati ia menerangkan, seluruh pekerjaan dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) yang diambil dari masyarakat di sekitar sekolah dengan sistem swakelola.
Artinya dia bilang, P2SP itu dibentuk oleh sekolah dengan melibatkan unsur komite dan masyarakat. Sementara tenaga kerja yang digunakan berasal dari masyarakat lokal yang memiliki keahlian di bidang konstruksi.
“Tenaga kerja ada 18 orang, itu kami prioritaskan kepada warga desa (lokal), demikian material, artinya tidak mengambil dari luar lokasi proyek karena tujuannya adalah untuk memberdayakan masyarakat sekitar,” bebernya.
Meskipun sejauh ini tak ada kendala yang signifikan selama proses pekerjaan itu, namun ia berharap selama 90 hari kedepan cuaca bisa mendukung terhadap pelaksanaan kedepan.
” Sejauh ini memang tidak ada kendala, tapi yang menjadi ketakutan kami selain cuaca adalah kendaraan (BBM), tentu akan berpengaruh terhadap waktu pengangkutan materia,” tandasnya.**
Laporan: Yhono Hande





