Oleh: Yosefa F. Hartin
Dari kejauhan yang remang,
terlihat bayang yang ingin menjadi nyata.
Ada gadis terpaku sendiri,
menatap langit yang perlahan kelabu.
Ia biasa di sana—di kafe tempat favoritnya.
Secangkir kopi jadi teman bisunya,
aromanya membelai setiap helaan napas.
Dalam hiruk pikuk dunia.
Ia memilih sunyi sebagai peluknya.
Langkahnya ringan menjejak malam.
Keluar tanpa tujuan, hanya ingin menyejukkan hatinya.
Suka begadang, bercumbu dengan waktu, menggantung harap pada bulan, meski tahu, semua hanya fatamorgana harapan.
Tak dipungkiri ia akrab dengan malam.
Setiap detik, menit, jamnya ia nikmati, tanpa sadar waktunya telah berganti.
Penuh cinta, ia menggenggam harapan.
Bukan pada dunia, tapi pada rasa yang ia simpan diam-diam.
Bila hatinya jatuh, ia genggam erat meski tak selalu tampak utuh.
Lagi dan lagi harapan dan cinta menjadi alasannya.
Penyayang, bukan hanya pada manusia,
tapi juga pada langit, laut, angin, debur ombak, dan hembusan cerita.
Ia gadis biasa, dengan ribuan luka yang disimpan rapi, namun tetap tersenyum, di setiap teguk kopinya yang pahit dan sepi.
Jika kau temui dia, jangan tanya kenapa sendiri.
Ia sedang bercakap dengan harap, di antara aroma kopi dan sunyi. Semoga kopinya tidak selamanya menjadi candu.
Setidaknya biarkan ia menemukan candunya secara nyata.
Penulis merupakan Sarjana S1 PGSD UNIKA St. Paulus Ruteng








