RUTENG, BERITAFLORES – Bupati Manggarai, Herybertus G.L Nabit, menyerahkan sejumlah 1.244 Surat Keputusan (SK) kepada para Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), lingkup wilayah setempat, Kamis, 31 Juli 2025.
Ribuan SK PPPK tersebut diberikan kepada para pegawai honorer yang sebelumnya masih tercatat mengabdi di berbagai instansi pemerintahan seperti guru, tenaga kesehatan dan tenaga tekhnis.
Para honorer tersebut akhirnya bernafas lega setelah bertahun-tahun lamanya menunggu dalam ketidakpastian lantaran pemerintah belum menaikan status mereka sebagai pegawai pemerintahan dengan status ASN PPPK.
Hal tersebut diterangkan juga oleh Bupati Hery Nabit saat memberikan sambutannya di acara itu.
Bupati Hery mengatakan jika para honorer yang menerima SK ini telah mengabdi bertahun-tahun dalam ketidakpastian.
Ketidakpastian yang dimaksud terkait degan status para honorer yang tidak mendapat pengakuan pemerintah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Ada yang mengabdi selama 15, 20, bahkan 21 tahun sebagai tenaga kontrak tanpa status ASN yang jelas. Namun, hari ini menjadi titik balik atas semua perjuangan itu,”kata Nabit.
“Saya tahu ini penantian panjang. Mungkin tidak mudah menjalani hari demi hari tanpa kepastian. Tapi jika saudara-saudari hadir hari ini, itu artinya kalian telah menang melawan ketidakpastian,” imbuhnya.
Ia juga menyampaikan bahwa perjuangan ini bukan hanya perjuangan individu, tetapi juga kemenangan kolektif atas sistem birokrasi yang selama ini tidak selalu berpihak pada para honorer.
“Hari ini negara hadir dan mengakui pengabdian kalian,” ucapnya.
Komitmen Pemerintah Daerah
Pengangkatan 1.244 PPPK ini merupakan bagian dari kebijakan strategis Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam mereformasi manajemen sumber daya manusia di sektor pelayanan publik.
Menurut Bupati Nabit, langkah ini adalah bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap para tenaga honorer yang telah bertahun-tahun memberikan kontribusi riil meski dalam keterbatasan.
“Ini bukan hadiah. Ini adalah pengakuan negara atas kerja keras dan kesetiaan kalian. Tapi pengangkatan ini bukan akhir. Ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” katanya.
Ia berharap agar status baru ini membawa semangat baru dalam bekerja.
“Kalian sekarang adalah wajah negara di tengah masyarakat. Maka bekerjalah dengan jujur, disiplin, dan penuh integritas,” imbuhnya.
Tegaskan Integritas, Disiplin, dan Etika Birokrasi
Dalam sambutan yang tegas namun penuh empati, Bupati Hery Nabit mengingatkan pentingnya menjaga integritas dan etika birokrasi.
Ia meminta para ASN PPPK untuk tidak terjebak pada gaya hidup konsumtif, ego sektoral, atau perilaku negatif yang bisa mencoreng martabat ASN.
“Boleh tidak suka kepala dinas, boleh tidak cocok dengan kepala puskesmas, tapi jangan terguncang karena itu. Jangan membicarakan buruknya instansi atau pimpinan, apalagi di media sosial. Zaman sekarang, satu unggahan bisa jadi boomerang,” pesannya.
Selain itu, Bupati juga menyinggung aspek manajemen keuangan pribadi. Ia mengingatkan bahwa gaji yang kini diterima secara rutin dan lebih pasti harus dikelola secara bijak.
“Jangan terjebak utang konsumtif. Gunakan pendapatan dengan bijak untuk keluarga dan masa depan,” pungkasnya.
Menata Hati, Menyalakan Harapan
Bupati Nabit mengakhiri sambutannya dengan ajakan reflektif. Ia meminta agar momentum ini tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga dijadikan waktu untuk menata kembali niat, semangat, dan komitmen dalam bekerja demi masyarakat.
“Saya meminta saudara-saudari menata hati kembali. Ini bukan sekadar status. Ini adalah janji bahwa mulai hari ini, kalian akan bekerja lebih baik, lebih jujur, dan lebih sungguh-sungguh untuk rakyat Manggarai,” tuturnya.
Dengan pengangkatan ribuan PPPK ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai berharap pelayanan publik di sektor pendidikan, kesehatan, dan teknis akan semakin kuat. Kehadiran ASN yang telah teruji oleh waktu dan pengalaman di lapangan diyakini akan meningkatkan kualitas kerja birokrasi, mempercepat reformasi pelayanan, dan memperkuat fondasi pembangunan daerah.
Momentum ini juga menjadi bukti bahwa birokrasi yang humanis dan berpihak pada rakyat kecil bukanlah mimpi. Ini adalah bukti bahwa perjuangan panjang, jika dijalani dengan sabar dan jujur, pada akhirnya akan sampai di pelabuhan pengakuan. (**)
Laporan: Adrianus Paju








