BAJAWA, BERITA FLORES – Seorang siswa SD kelas IV berinisial YBS (10) diduga bunuh diri viral. Korban ditemukan tewas gantung diri di dahan pohon cengkeh di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Flores-Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis siang, 29 Januari 2026.
Korban diketahui tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di sebuah pondok kecil. Saat ini, aparat kepolisian setempat membenarkan kejadian tersebut. Korban kata polisi, ditemukan tewas gantung diri dengan seutas tali di dahan pohon cengkeh di sebuah pondok kecil tempat tinggalnya bersama sang nenek.
Usai kejadian, aparat kepolisian Polres Ngada menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Surat tersebut pun viral di sejumlah platform media sosial. Sebab, berisi pesan mendalam.
Surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban kepada ibunya. Dalam surat tersebut, YBS mengungkapkan kekecewaan kepada ibunya menggunakan bahasa daerah setempat.
Berikut Isi Surat dengan Tulisan Tangan Korban
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Dalam surat tersebut, tampak menggambarkan dugaan pemicu YBS melakukan aksi bunuh diri karena diduga kecewa kepada sang ibu. Lantaran tak menuruti permintaannya. Ia juga menggambarkan seseorang anak yang sedang menangis di akhir secarik surat itu.
Di samping itu, kuat dugaan bahwa peristiwa nahas tersebut terjadi karena korban putus asa lantaran tak kunjung dibelikan buku oleh ibunya yang berinisial MGT (47).
Ironisnya, korban hanya meminta dibelikan buku dan pulpen dengan harga kurang dari Rp10 ribu. MGT tidak memenuhi permintaan tersebut karena mengalami kesulitan ekonomi. Karena kondisi tersebut, orangtua korban tak mampu mendapatkan uang untuk membeli buku sang anak.
Dari data yang diperoleh wartawan, MGT yang merupakan ibu korban menjalani pekerjaan sehari-harinya sebagai petani. Bahkan, ibu korban berstatus sebagai seorang janda.
Sang ibu membiarkan YBS tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di sebuah pondok.
Ironisnya, sebuah pondok kecil yang menjadi kediamannya sebagai saksi bisu tempat korban mengakhiri hidupnya. Hingga pada akhirnya, korban gantung diri di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis, 29 Januari 2026.
“MGT memiliki lima anak. Otomatis, ia harus menafkahi semua buah hatinya. Karena masuk golongan masyarakat miskin,” kata Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort kepada wartawan Rabu, 4 Februari 2026.
Benediktus menjelaskan, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menemukan surat berisi pesan yang sengaja ditinggalkan korban kepada ibunya.
Hingga saat ini, aparat kepolisian Polres Ngada telah mengamankan barang bukti berupa secarik kertas tulisan tangan dari korban. Polisi juga terus mendalami penyebab lain dari kematian korban dan menggali informasi seputar kejadian memilukan tersebut.***





