RUTENG, BERITA FLORES – Komitmen mewujudkan Manggarai Bebas Pasung terus ditunjukkan UPTD Puskesmas La’o.
Hingga November 2025, sebanyak 57 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang tersebar di delapan kelurahan di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, mendapatkan pendampingan medis dan psiko-sosial secara berkelanjutan.
Pelayanan tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan rutin, pemantauan kondisi pasien, hingga pendekatan emosional sebagai upaya memulihkan martabat dan kualitas hidup para penyintas ODGJ.
Program ini menjadi bagian dari pelayanan kesehatan jiwa berbasis kemanusiaan dan kolaborasi lintas sektor.
Kepala UPTD Puskesmas La’o, Eduard Keluman, menegaskan bahwa penanganan pasien ODGJ dilakukan secara intensif dan tidak dibatasi jam kerja formal.
Petugas kerap turun langsung ke lapangan, termasuk di luar jam dinas, terutama saat menerima laporan kondisi pasien yang membahayakan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
“Petugas selalu siap, dan tidak jarang bekerja sampai malam demi keselamatan pasien dan masyarakat,” ungkap Eduard.
Ia menjelaskan, Puskesmas La’o aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kelurahan, Bhabinkamtibmas, hingga Klinik Renceng Mose, guna memastikan respons cepat dan penanganan yang tepat sasaran.
Eduard juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam proses pemulihan.
“Keterbukaan adalah kunci utama agar pasien bisa sembuh dan kembali menjalani kehidupan yang produktif. Jangan sembunyikan pasien, karena keterbukaan adalah kunci agar mereka bisa pulih dan kembali berdaya,” tegasnya.
Sementara itu, Penanggung Jawab Program ODGJ UPTD Puskesmas La’o, Maria Evalde Tapung, menyebutkan bahwa dari total 57 pasien, sebanyak 44 pasien aktif menerima pengobatan rutin.
Sisanya tidak mendapatkan terapi obat karena pertimbangan medis tertentu, seperti usia lanjut, penyakit penyerta, atau telah berpindah domisili mengikuti keluarga.
Tim kesehatan, lanjut Tapung, secara rutin melakukan kunjungan rumah setiap bulan. Selain pemberian obat, layanan juga mencakup perawatan kebersihan diri, terapi bicara, serta pendekatan emosional guna mendukung pemulihan pasien secara menyeluruh.
“Kami juga memandikan pasien, melakukan terapi bicara, dan pendekatan emosional agar proses pemulihan berjalan optimal,” ujarnya.
Untuk memastikan kepatuhan minum obat, petugas terus berkoordinasi dengan orang tua atau anggota keluarga yang tinggal bersama pasien. Keterlibatan keluarga dinilai sangat menentukan keberhasilan terapi dan keberlanjutan pemulihan.
Tapung menambahkan, dari delapan kelurahan wilayah pendampingan, saat ini terdapat dua pasien yang menunjukkan kemajuan signifikan dan mendekati sembuh, masing-masing di Kelurahan Golo Dukal dan Waso.
Ia mengajak masyarakat untuk menghapus stigma dan memberikan dukungan penuh.
Untuk memastikan kepatuhan minum obat, petugas terus berkoordinasi dengan orang tua atau anggota keluarga yang tinggal bersama pasien. Keterlibatan keluarga dinilai sangat menentukan keberhasilan terapi dan keberlanjutan pemulihan.
“Jika mereka sudah mulai pulih, jangan jauhi. Rangkul kembali mereka, karena mereka adalah bagian dari kita,” pungkasnya. **
Laporan : Yhono Hande




