RUTENG, BERITA FLORES – Program revitalisasi satuan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, berjalan dengan baik.
Hal itu dilihat dari kemajuan fisiknya yang mencapai 95 persen atau hanya tersisa pekerjaan urinal pada toilet pria.
Kepala SMPN 2 Wae Ri’i, Yulius Eric Pery, yang ditemui Beritaflores, Jumat 12 Desember kemarin, menerangkan bahwa secara keseluruhan kegiatan revitalisasi di sekolahnya sudah mencapai 95 persen dengan batas kontrak 24 Desember 2025.
Diyakini pekerjaan yang dilaksanakan melalui skema swakelola itu, secepatnya rampung.
Yulius menjelaskan, alokasi anggaran untuk program revitalisasi di SMPN 2 Wae Ri’i sebesar Rp 1,286 miliar yang bersumber dari Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2025. Dari bantuan Kemendikdasmen ini, pihak sekolah merevitaliasi dua ruangan kelas.
Selain itu lanjut Yulius, bangun satu unit ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dua unit toilet, dan rehab laboratorium IPA. Khusus bangunan dua unit toilet, masing-masing terdiri dari 3 ruang, yakni tempat untuk perempuan, laki-laki, dan untuk penyandang disabilitas. Pekerjanya melibatkan tenaga kerja lokal.
“Sekarang hanya tinggal pasang
perlengkapan sanitasi khusus di toilet pria yang dirancang untuk buang air kecil sambil berdiri atau disebut urinal. Kalau material ini sudah ada, maka pekerjaan tuntas atau progresnya 100 persen,” ujar Yulius.
Ia menyampaikan, selama ini tidak mengalami kendala pada proses pekerjaan, termasuk cuaca terbilang cukup mendukung. Bahkan aktifitas belajar mengajar di sekolah berjalan aman dan lancar atau tidak terganggu. Saat ini total peserta didik di sekolah yang berlokasi di Rua, Desa Golo Watu, sekira 470-an orang.
Kata Yulius, hadirnya program pemerintah di lembaga sekolah, seperti revitalisasi satuan pendidikan, tentu menciptakan sarana dan prasarana pendidikan yang aman dan nyaman sehingga semua warga sekolah dapat melakukan proses kegiatan belajar dan mengajar, serta meningkatkan kualitas mutu pendidikan.
“Kalau untuk fasilitas penunjang seperti ruangan kelas, sudah sebanding dengan jumlah keseluruhan siswa/i di sekolah ini. Sehingga sangat bersyukur karena pada tahun 2025, sekolah ini mendapat alokasi program revitalisasi satuan pendidikan,” ungkapnya Yulius.
Ia menambah, pada tahun 2024 lalu, pihaknya mendapat alokasi dana yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk bangun satu ruang kelas dengan sistem kontraktual.
Mengingat lahan terbatas, maka ke depan sekolah itu sulit untuk penambahan gedung atau ruang kelas baru.
“Kalau untuk tambah bangun gedung baru, sudah tidak dimungkinkan lagi. Hal ini karena lahan sekolah terbatas. Peluang hanya untuk rehab gedung atau ruang kelas yang sudah berusia lama, dan juga bangun baru dengan konstruksi bangunan tingkat,” tutupnya.**
Laporan: Yhono Hande




