21.07.2010 09:46:51 WIB
Oleh: Ahmad Yunus
MATAHARI pagi memberikan siluet emas pada hamparan hutan bakau. Sesekali suara kokok ayam terdengar nyaring. Diselingi kicauan burung yang menyambut hari itu, Minggu pagi, 26 Oktober 2008 di Pantai Riung, Pulau Flores.
Air pantai nan jernih bergemericik tenang. Memantulkan sinar matahari untuk menembus sela-sela rumah panggung nelayan. Bocah-bocah kecil bertelanjang baru bangun. Dan mencari datangnya sinar matahari untuk menghangatkan tubuh mereka.
Pagi itu, seusai minum satu cangkir kopi hitam, saya bergegas menuju pantai. Di sini ada beberapa home stays yang murah. Sewa kamar dari Rp 35.000 sampai Rp 300 ribu satu malam.
Kadirun Bolong, 50 tahun, telah menyiapkan perahunya. Mengecek mesin dan persediaan bensin. Ia dengan senang hati mengantarkan saya untuk berkeliling menikmati suasana Pantai Riung. Salahsatu pantai eksotik dari Flores yang kaya dengan kehidupan biota laut. Dari ikan Kerapu, Tongkol, Teripang, Udang Lobster, rumput laut hingga terumbu karang. Sewa satu kapal Rp 200 ribu.
Mesin perahu menderu. Perahu bergerak lamban memecah air dan menjauhi pelabuhan. Perahu mulai melewati pulau-pulau kecil yang berbatu. Dari atas perahu kayu itu saya melihat kondisi alam Riung dari kejauhan. Sebagian besar dari bukit-bukit yang menonjol itu terlihat kering. Tapi di sisi lain yang mendekat ke arah pesisir terlihat hijau oleh Pohon Kelapa dan Bakau.
Pantai Riung memiliki deretan pulau-pulau kecil. Totalnya mencapai 22 pulau. Namun, orang mengenalnya dengan kawasan wisata 17 pulau yang merujuk pada hari proklamasi Republik Indonesia. Perahu melewati beberapa titik pantai yang landai dan dalam. Dasar batu karang terlihat jelas namun di titik lain terlihat gelap.
Pulau pertama yang saya lihat adalah Pulau Kelelawar. Ribuan Kelelawar liar terlihat menggantung di batang Bakau. Mereka menutupi wajahnya dari sinar matahari. Hutan Bakau itu terlihat gelap. Akarnya besar.
Saya mengeluarkan kamera dan memotret kelelawar yang tidur itu. Kadirun mulai membangunkan kelelawar itu dengan membuat gaduh. Berteriak dan sesekali memukul badan perahunya. Satu Kelelawar mulai membuka jubahnya dan melepaskan diri dari ranting.
Sang Kelelawar bereaksi dengan mengeluarkan teriakan keras. Seolah memberikan aba-aba peringatan. Satu dua mulai terbang liar dan membangunkan yang lainnya. Tak berapa lama Kelelawar itu terbang berkeliling di atas Bakau. Bau dari Kelelawar terasa keras dan bau anyir. Ribuan Kelelawar terbang rendah dan terlihat bentangan sayap dan badannya yang gemuk.
Rasanya tak enak hati membangunkan Kelalawar yang terlelap itu. Saya lantas minta Kadirun untuk menyalakan mesin perahu dan meninggalkan lokasi Pulau Kelelawar itu. Perahu bergerak menuju tengah pantai. Dari kejauhan pulau-pulau lain tampak terlihat. Matahari mulai naik. Burung-burung camar terlihat bermain mengganggu rombongan ikan-ikan kecil yang naik ke permukaan. Sesekali menikuk dan nyebur ke dalam laut.
Kadirun menurunkan kecepatan perahu. Angin laut terasa segar. Perahu memasuki area terumbu karang. Ikan-ikan berwarna biru terlihat jelas. Airnya jernih. Setengah jam perahu bergerak pelan di atas deretan terumbu karang. Pemandangan terumbu karang membuat saya takjub dan terbayar sudah dengan perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan pada kemarin hari.
SAYA berangkat dari Ende menggunakan motor pada Sabtu siang, 25 Oktober 2008. Jalan meliuk naik turun. Sisi kiri laut lepas. Melewati dusun. Pemandangan cantik sekali hingga menuju Mbay. Di atas puncak saya melihat Mbay. Banyak sawah dan kerbau. Daratannya rata.
Namun Mbay terasa gerah dibandingkan dengan daerah lainnya di Flores. Sinar matahari terasa terik sekali. Beberapa kali saya istirahat dan minum air mineral. Mbay malah menyuguhkan pemandangan alam yang esktrem. Pemandangan ini saya temui seusai melewati jembatan sepanjang 30 meter.
Suasananya mirip Afrika. Bukit-bukit kering berbatu. Tanahnya berdebu. Pohon kering kerontang berwarna kuning. Rumput juga bernasib sama. Suasana sepi. Rumah warga terlihat berjauhan. Terlihat miris melihat kondisi rumah dan warga di sini. Rumah itu terbuat dari bambu. Atapnya dari daun Lontar dan berlantai tanah. Rumah ini tidak berdiri tegak. Namun kebanyakan sudah miring.
Tidak terlihat wilayah pertanian di sini. Hewan ternak seperti kerbau, sapi, babi dan kambing berkeliaran liar. Entah apa yang dimakan oleh hewan ternak itu. Toh di sini tidak sedikitpun terlihat rumput yang hijau. Namun, Pohon Lontar tumbuh tinggi dan hijau. Mungkin, ini satu-satunya pohon yang bisa beradaptasi dengan kondisi seperti itu.
Setengah jam lebih saya telah menikmati suasana savana Mbay ini. Kepala terasa pusing. Bagaimana dan mengapa warga memilih tinggal di sini? Pikiran saya melayang ke Jakarta maupun kota-kota besar lainnya di Jawa. Betapa mengenaskan dan kontrasnya hidup ini.
Dari kejauhan saya melihat orang-orang berkumpul di sebuah lapangan setengah lapangan sepakbola. Lapangan ini berdebu. Ada lima buah rumah panggung yang atapnya dari Lontar. Orang-orang datang menggunakan sepeda motor, jalan kaki dan naik truk.
Saya menghentikan laju sepeda motor. Seorang pemuda mengatakan mereka hendak menunggu sebuah pertunjukkan tinju tradisional. Ini acara adat masyarakat Nggolo Neso, Mbay. Anak-anak sampai pemuda bertarung satu persatu. Tinju tradisional ini menggunakan senjata kayu sepanjang satu jengkal tangan dewasa. Senjata ini bisa melukai karena telah diolesi oleh pecahan kaca seperti ampelas.
Ketua adat mengijinkan saya memotret acara ritual tinju tradisional ini. Mereka menggunakan ikat kepala berwarna merah. Memakai sarung tenun bercorak bunga warna kuning. Orang-orang berteriak kegirangan melihat aksi gladiator ini.
Sebelum pertandingan dimulai, seorang wasit mengumumkan aturan main. Tidak boleh ada dendam dan aksi tarung di luar arena tinju. Dan aksi para gladiator pun dimulai. Aksi keras di tanah tandus yang kering.
KAPAL kayu yang mengantarkan saya telah berhenti di sebuah pulau. Pasir putih dan airnya tenang. Jernih dan berwarna biru. Seekor burung elang laut terbang rendah dan hinggap di Bakau. Saya turun dari kapal. Menarik nafas dan langsung melepas kaos. Pasang google. Langsung snorkeling.
Sungguh mengasyikan. Ikan-ikan lucu mendekat dan sesekali mencium google saya. Terumbu karang terlihat warna warni. Cuma sayang di dalam air saya masih melihat beberapa plastik makanan ringan yang tertinggal di sana.
Kawasan ini seluas 12.000 hektar dan terdiri cagar alam laut seluas 2000 hektar. Sedangkan taman wisata alam lautnya mencapai 9900 hektar. Di sini bisa juga menikmati keberadaan Komodo atau nama latinnya Varanus Riungensis di Pulau Ontoloe yang masih liar. Sayang, saya tak beruntung melihat komodo-komodo liar ini.
Riung menyimpan potensi wisata yang luarbiasa. Juga sumber pengetahuan alam tentang biota laut dan keanekaragaman hayatinya. Seorang sukarelawan dari World Wild Fund atau WWF melakukan riset di Riung. Kristina Nanu mengatakan topografi laut Riung landai. Dari kedalaman 8 hingga 10 meter sinar matahari masih bisa tembus. Selain itu, arus di sini juga tenang. Ia bisa menyelam dan menikmati alam bawah laut Riung hingga 5 jam!
Namun, Riung pernah mengalami masa suram hingga dekade tahun 90?an. Tidak sedikit warga menggunakan bom untuk menangkap ikan. Potasium dan portas adalah bahan yang cukup akrab mereka gunakan. Kondisi ini membuat terumbu karang di Riung rusak parah. Selain itu, keberadaan ikan semakin hari semakin berkurang. Pada tahun 2000, WWF hanya mencatat hanya satu persen kondisi batu karang di sini dalam keadaan sehat.
“Kita sosialisasi agar masyarakat tidak menggunakan bom. Kita ajak mereka tanam bakau dan kegiatan rehabilitasi lainnya,” kata Kristina Nanu.
Rehabilitasi ini termasuk melakukan transplantasi karang dan pencangkokan. Tujuannya agar merangsang pertumbuhan karang-karang baru. Menurutnya, pertumbuhan karang berjalan lama. Satu bulan menghasilkan 0,05 centimeter.
“Pemanasan global membuat batu karang menjadi putih. Lama-lama rapuh dan patah. Efek ini bisa dilihat di sini. Ada di Pulau Pata, Rutong dan Dua,” katanya.
Ia mencintai laut dan kelak ingin warga di sini sejahtera karena keberadaan Riung. Warga kini tengah melakukan budidaya rumput laut dan pengembangan budidaya Teripang. Anak-anak bisa belajar mengenai lingkungan dan keragaman biota laut yang berada di pulau-pulau kecil itu. Riung ibaratnya menjadi laboratorium pengetahuan.
Segelas kopi menyegarkan siang itu di sebuah pelataran rumah warga. Angin laut berhembus pelan. Wangi ikan bakar menusuk perut. Saya bersama warga Riung duduk santai sambil menikmati kue. Kelak saya ingin lebih lama lagi menikmati Riung yang eksotik.***
