21.07.2010 09:32:08 WIB
Oleh: Ahmad Yunus
WOLOWARU adalah sebuah desa kecil yang terletak di kaki Gunung Kelimutu, Ende, Pulau Flores. Desa ini cantik. Airnya segar dan banyak pohon. Wolowaru menjadi tempat istirahat bagi para pesiar. Baik yang hendak ke Maumere maupun ke Ende.
Di sini, ada sebuah warung makan, namanya, Jawa Timur. Jagoannya, soto dan goreng ayam. Pemiliknya, Sucahyo Lukito. Perawakannya sederhana. Memakai kaos belel. Celana pendek. Dan sandal jepit.
Pagi itu, Selasa, 29 April 2008, beberapa pelanggannya tengah makan lahap di warung makannya. Beberapa sopir juga terlihat membakar rokok kretek. Di samping kiri kanan warung terdapat toko yang menjual aneka barang sehari-hari.
Sehari-hari, Sucahyo Lukito bekerja di belakang warung makan itu. Memang, ia bukan juru masak warung makan itu. Tapi bersama 123 orang pekerja lainnya mengolah kacang mete. Dari memecah batok gelondong mete hingga menyajikan mete dalam bentuk cemilan. Ia membangun sebuah usaha dagang dengan bendera Nusa Permai.
Sucahyo Lukito mengolah mete organik dalam bentuk kernel putih dan kacang garing. Prosesnya melalui pematangan oven hingga 12 jam dengan suhu panas mencapai 45 derajat celcius. Mete organik ini pun langsung terasa renyah, manis dan gurih.
“Sudah lulus uji laboratorium dari Jerman. Metenya diperiksa apa ada bakteri dan virusnya, nutrisinya bagaimana,” kata Sucahyo Lukito kepada saya.
Kantornya kecil. Lantai keramik putih. Mesin pendingin udara menyala memberikan sedikit kesejukan. Laptop terongok di sudut meja kerjanya. Ia juga mengoleksi produk-produk organik mete dunia. Dari India hingga Kanada.
Ia mengecek olahan kacang mete di laboratorium Ifmulm atau Institut für Mikrobiologie Dr. Rolf Bäuerle. Hasilnya, mete organik ini layak dikonsumsi dan sehat.
Ini adalah salahsatu syarat agar metenya bisa masuk pasar perdagangan Eropa maupun Amerika. Selain itu, ia juga mendongkrak nilai cemilan metenya dengan sebuah sertifikat organik internasional dari IMO atau Institute for Marketecology untuk pengolahan dan pemasaran produk organik.
Setiap tahunnya ia mengeluarkan uang sebesar 1600 Euro atau Rp 20 juta untuk memperpanjang sertifikasi tersebut. IMO melakukan pengecekan di lapangan. Dari mulai kebun mete yang berada di Maumere, Sikka, Ngada hingga di Ilepadung, Flores Timur. Termasuk memeriksa kebersihan pengolahan mete di belakang warung makan Jawa Timur di Wolowaru, Ende itu. Tujuannya sama, untuk memastikan mete itu bersih dan bebas dari kontaminasi kimia.
Perkebunan mete ini telah mendapatkan sertifikasi organik. Ada sekitar 600 petani mete organik dan menghasilkan sekitar 240 ton setiap panen. Pulau Flores kaya dengan ragam komoditas rempah-rempah.
Bagian Flores Barat menjadi basis perkebunan kopi. Sementara di bagian utara hingga timur menjadi basis komoditas rempah-rempah lainnya. Seperti hamparan perkebunan jambu mete di Larantuka, Flores Timur.
“Flores itu terlalu kaya. Apa yang tidak ada di Flores ini. Hanya terarah atau tidak. Flores ini bisa makmur. Kaya sekali. Itu baru mete, belum kopi, vanili, coklat, kopra. Tapi bagaimana itu,” katanya seperti hendak menggugat.
Tak jauh dari ruang kerjanya, beberapa perempuan tengah sibuk bekerja membersihkan mete hingga menjadi kernel berwarna putih. Menggunakan kuas untuk mengupas potongan kulit ari mete yang sudah kering. Mete-mete itu diperiksa satu persatu seperti seorang antropolog yang tengah membersihkan tulang belulang Dinosaurus.(bersambung)***
