Fransiskus Adryanto Pratama. (Foto: Dok. Pribadi).

Malam, mencekam kelam

Tak ada bias terang

Bayang rindu meringkuk, kikuk tak bertuan

Kenangan tak lagi bermakna

Mata tak pejam, gelisah menyamar

Sesekali tersandung deguk luda. Apa yang merasuki?

Inikah sebuah pencarian? Ziarah batin tak bertuan?

Mungkinkah gelap mengajarkan diriku mencari jejak cahaya prihal sebuah kebimbangan yang menderaku

Lantas, aku hendak meminta pertolongan Tuhan

Aku mencoba mengatup tangan, mulai melarik kata dalam diam berdoa kepada-Nya

Tuhan, bebaskan semua kegundahan yang melilit kalbu

Aku percaya, hanya engkau yang mampu memberikan kelegaan padaku
Memeluk Sepi

Jiwa kini dirundung sepi

Sebab, jejak sunyi mencumbui malam

Aku menantangnya dengan menggores ingin

Merakit larik kata, mengamini dengan segala asa

Mencoba merenung dengan menerobos rahim khayalan

Melewati batas sampai ujung harapan

Kadang berhenti, gelap menutup mata

Hitam menjeda menggores, sedang putih mengisak tangis

Bulirnya menjelma keraguan

Bisakah aku meneruskan langkah, menggapai segala angan?

Kehendak menggebu, jemari kembali menari diiringi degup nafas


Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama, Alumni Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta

Previous articleSurat Terbuka: Cegah Kerusakan Lingkungan dan Masyarakat Manggarai Raya!
Next articleMahasiswa Tolak Pabrik Semen Desa Satar Punda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here